Jumat, 25 Agustus 2017

SKRIPSI Jama'ah Tabligh

ABSTRAK
Skripsi ini berjudul Tradisi khuruj Jama’ah Tabligh di Kota Padang ( 2002-2016) Kasus di Mushalla Ar-Rahman dan di Mesjid Al-Hijrah. Rumusan masalah: Bagaimana aktivitas tradisi khuruj Jama’ah Tabligh di Kota Padang. Bagaimana  Respon  masyarakat  di Kota Padang.
Penulisan Skripsi ini menggunakan metode penelitian sejarah : Heuristik: pengumpulan Sumber-sumber tersebut dan terbagi dua: Sumber Primer dan Sumber Skunder. Sumber Primer ialah sumber  utama yang diperoleh dari hasil wawancara dengan Tokoh-tokoh Jama’ah Tabligh beserta Amir–amirnya. Sumber Skunder adalah sumber yang melengkapi sumber-sumber primer  yaitu sumber–sumber  yang dikumpulkan dari literatur dan daftar pustaka yang ada berhubungan dengan penelitian. 
Sintesis. Pada tahap ini, peneliti akan menyusun semua fakta–fakta yang telah diklasifikasikan hingga membentuk kerangka sejarah yang memiliki kaitan–kaitan yang masuk akal. Dalam sintesis eksternal peneliti kembali mengklasifikasikan fakta yang telah di rumuskan (fakta keras/fakta lunak) berdasarkan kegunaan fakta tersebut. Pada tahap sintesis internal fakta-fakta telah siap digunakan untuk penulisan cerita sejarah. Fakta - fakta telah tersusun secara logis dan objektif. Fakta sejarah pada tahap sintesis internal ini telah berbentuk paragraf-paragraf dan telah siap digunakan untuk penulisan laporan penelitian ini.
Penulisan Sejarah. Pada tahap ini, peneliti melakukan penulisan sejarah berbentuk naratif dengan kaidah- kaidah penulisan ilmiah yang berlaku. Dalam penulisan laporan nantinya, fakta-fakta terus dikembangkan.
Aktivitas khuruj Jama’ah Tabligh: Pertama, taklim wa taklum ( belajar dan mengajar) kedua,Kedua, musyawarah tentang amalan harian. ketiga, jaula (mengelilingi dan mengunjungi rumah ke rumah masyarakat.keempat,bayan( ceramah Agama  Islam) kelima, khidmat( melayani tamu dan mempersiapkan hal lain).

Respon Masyarakat positif : Pertama. Semakin gemar melakukan ibadah wajib dan sunnah. Kedua. Giat Shalat berjama’ah ke mesjid. Ketiga. Bertambahnya  jama’ah untuk sholat berjamaah dan bersemangat mendengar pengajian. Keempat. Memperkokoh tali silaturrahim. Respon masyarakat negatif : Berbagai macam penolakan,ejekan dan di usir ketika hendak iktikaf di Mesjid / Mushalla di berbagai daerah ketika Jama’ah Tabligh Khuruj salah satu di Mushalla Ar-Rahman( Jl.Pilakut Buana Indah I  dan di Mesjid Al-Hijrah ( Jl.Delima VIII Belimmbing). 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Islam sebagai agama terakhir yang dibawa oleh Rasulullah SAW,menegaskan agar umatnya menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Kapan dan dimana saja. Islam juga dapat menjamin terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia bilamana ajaran Islam itu diamalkan dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat dijadikan sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia.
Allah berfirman :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون

Artinya:
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung. ( Q.S.Ali’ Imran: 104 )[1].

Juga dalam firman Allah dalam surat Ali’- Imran : 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ                           
لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُون                                                                                             
                       Artinya
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.[2]

Perkataan أُخْرِجَتْ asal artinya dikeluarkan, menurut Tafsir Al-Jalalain ditampakkan, ditampilkan, atau dizhahirkan لِلنَّاسِ untuk manusia. Sifat ini merupakan syarat agar menjadi umat terbaik mesti tampil di hadapan manusia, eksistensinya nampak. Eksistensi tersebut tentu saja dalam memberi manfaat untuk manusia lain. Manusia mukmin akan menjadi yang terbaik, apapun peran dan fungsinya maka segala yang dilakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera. Peranan أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ juga bermakna tampil menjadi pemimpin dalam segala aspek kehidupan yang lebih baik.[3]
Jama’ah Tabligh memakai dasar menyeru kepada yang ma’ruf dan menyuruh agar mengamalkan Islam secara kaffah seperti para sahabat yang terdahulu yang diridhoi Allah danharus ada sekelompok orang yang menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar. Setiap pribadi muslim wajib mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang belum tahu bagaimana mengamalkan agama secara menyeluruh. Patuh kepada perintah Allah dan kepada rasul yang Allah utus kepermukaan bumi ini. Dalam menyampaikan atau mengajarkan Islam, banyak sekali lembaga atau sekolah-sekolah Agama telah didirikan diberbagai belahan bumi ini, untuk mengajarkan dan menyampaikan Islam, terutama pesantren-pesantren dan majelista’lim dilaksanakan dalam menambah ilmu dan wawasan agama kepada masyarakat. Salah satu dari kelompok yang mengamalkan Islam dan menyampaikan Islam dengan lemah  lembutdan mempunyai sebuah kerja dakwah yaitu program khuruj fisabilillah berjuang di jalan Allah demi menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW.
 Khuruj fisabilillah  adalah keluar di jalan Allah demi menghidupkan kerja Nabi Muhammad SAW. Dakwah bagi Jama’ah Tabligh adalah gerakan ummat muslim untuk menyampaikan pentingnya ajaran Islam, pentingnya agama dalam kehidupan sehari- hari dan pentingnya mengingatkan antara sesama ummat manusia, karena itu menjadi suatu kelaziman bagi mereka untuk mengikuti program khuruj dalam rangka membina diri. Khuruj adalah meluangkan waktu secara total untuk berdakwah dengan menggunakan harta dan diri, meningkatkan kualitas diri sambil mengajak ummat muslim lainnya untuk bergabung secara suka rela. Mereka bergerak dari satu tempat ketempat lain, dari satu Mesjid ke Mesjid lainnya, untuk menjalin silaturrahim.[4]
Jama’ah Tabligh, secara bahasa diambil dari  (Bahasa Arab: Jama’atut Tabligh ) yang berarti “ kelompok penyampai dan penyebar “Jama’ah Tabligh didirikan pada akhir tahun 1920 oleh Maulana Muhammad Ilyas Kandahlawi di Mewat, sebuah provinsi di India.[5]Jamaah ini memiliki berbagai sebutan nama di kalangan masyarakat, ada yang menyebutnya, Jama’ah Tabligh, Jama’ah Jaulah, Jama’ah Jenggot, Jama’ah Kompor, Jama’ah Silaturahmi dan Jama’ah Dakwah. Semua sebutan itu adalah masalah nama. Sedangkan Jama’ah ini sendiri tidak pernah memiliki nama resmi.Walaupun tidak ada nama resmi Jama’ah ini, namun untuk mempermudah dan menyampaikan dan pemahaman dalam penelitian ini, maka penulis sengaja menggunakan sebutan yang sering disebutkan masyarakat. Jama’ah Tabligh ini memiliki satu keunikan, yaitu walaupun orang yang mengikuti mencapai puluhan juta orang dan semakin hari semakin bertambah, namun Jama’ah ini tidak berada di bawah bendera organisasi apapun. Tidak ada organisasi, tidak ada partai, tidak ada lembaga, tidak ada yayasan. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya pada Jama’ah ini surat, akte atau sertifikat. Selain itu tidak ada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, serta tidak ada surat perintah kerja, surat pengangkatan, surat penghentian hubungan kerja( PHK), surat pemecatan, dan surat pensiun.[6]
Jama’ah Tabligh ini bukan organisasi tetapi didalam kerjanya terorganisir. Di mulai dari penanggung jawab mereka di seluruh dunia yang dikenal dengan ahli syuro di Nizamuddin India, kemudian dibawahnya ada syuro Negara, misalnya syuro di Indonesia, Malaysia, dan di Amerika. Menurut pengakuan mereka ada lebih dari 250 Negara yang memiliki markas seperti di Kebun Jeruk, Jakarta. Kemudian ada penanggung jawab provinsi untuk Indonesia ini sudah ada di semua provinsi masing-masing daerah. Dibawahnya ada penanggung jawab kabupaten seperti penanggung jawab Solo dan penanggung jawab Purwokerto, dll. Dibawahnya ada halaqoh yang terdiri dari banyak mahallah minimal 10 mahallah yakni  (mesjid/mushalla yang hidup amal tradisi dakwah khurujnya) dan masing-masing ada penanggung jawab yang dipilih oleh musyawarah di tempat Mesjid/Mushallah masing-masing. Di India ada Mesjid yang menjadi mahallah sekaligus halaqoh dimana didalam Mesjid hidup 10 kelompok kerja Jama’ah yang di antar tiap bulan tiga hari.[7]
Walaupun tidak ada nama resmi organisasi ini, namun Jama’ah ini bergerak dengan sangat terorganisasi yang rapi. Dicontohkan sebagaimana jama’ah shalat tidak ada organisasinya, tidak ada susunan pengurus dan tidak ada kartu anggotanya, namun Jama’ahshalat dapat berkumpul seketika, ada imam dan makmum ( pemimpin dan yang dipimpin), lalu dapat berjama’ah dengan tertib dan teratur. Ketika kelompok Jama’ah Tabligh ini melaksanakan khuruj ( keluar ) selama tiga hari, tujuh hari, satu bulan, dan 40 hari ) berbagai tantangan yang dihadapi dalam khuruj ini, kelompok ini pernah terjadi pengusiran oleh warga setempat ketika khuruj, alasan masyarakat kelompok ini menyuruh ke Mesjid padahal kami rajin ke mesjid.Sedangkan keluarganya sendiri tidak dapat datang ke Mesjid, Kejadian ini terjadi di Mushalla Ar-Rahman, jalan Pilakut Buana Indah I Padang.[8]
Selain itu juga masyarakat dibuat resah oleh kelompok ini ketika khuruj di mesjid Al-Hijrah, Jalan Delima Belimbing Padang dan di Mushalla AR-Rahman Jalan Pilakut Buana Indah I Kota Padang. Alasan masyarakat menolak kelompok ini karena mereka tidur di mesjid  dan memasak serta pakaian tidak pernah diganti dan kotor[9].
Walaupun banyak yang menilai mereka sesat dan asing, semakin bertambah hari dan tahun  banyak bertambah pengikutnya dan bergabung dalam program khuruj[10].
Dari latar belakang seperti itupenulis tertarik ingin meneliti tentang “ Bagaimana Tradisi Khuruj Jama’ah Tabligh”di Kota Padang?

B.     Rumusan  dan Batasan Masalah
1.      Bagaimana aktivitas Tradisi Khuruj Jama’ah Tabligh di Kota Padang
2.      Bagaimana Respon masyarakat di Kota Padang
a)      Batasan Spasial
Batasan Spasial yaitu batasan wilayah. aktivitas khuruj di Mesjid Al-Hijrah dan di Mushalla AR-Rahman Kota Padang. Bagaimana Respon masyarakat di Kota Padang
b)      Batasan Temporal
Batasan Temporal merupakan batasan waktu, batasan temporal penelitian ini  dimulai pada tahun 2000 -2016. Tahun 2000 - 2016 merupakan perkembangan Jama’ah Tabligh di Kota Padang. 
c)      Batasan Tematis
Batasan tematis penelitian ini yaitu : Bagaimana aktivitas Tradisi khuruj Jama’ah Tabligh di Kota Padang. Bagaimana Respon  masyarakat  di Kota Padang.
C.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengungkap bagaimana aktivitas tradisi khuruj Jama’ah Tabligh di Kota Padang?
b.      Untuk mengetahui dan melihat respon masyarakat di Kota Padang
2.      Kegunaan Penelitian
a.    Sebagai bahan informasi kepada masyarakat secara objektif dan agar menjauhkan pikiran yang buruk dan jeleknya terhadap Jama’ah Tabligh
b.    Bagi penulis, dapat menambah wawasan dan pengalaman tentang cara Jama’ah Tabligh mendakwahkan Islam tanpa memungut biaya sepeserpun kepada masyarakat.
c.    Untuk mempermudah mahasiswa atau generasi yang ingin mengetahui tentang Jama’ah Tabligh khususnyapada Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Imam Bonjol, Padang.

D.    Penjelasan Judul
Tradisi adalah kebiasaan yang turun temurun dalam suatu masyarakat. Tradisi merupakan mekanisme yang dapat membantu untuk memperlancar perkembangan pribadi anggota masyarakat, misalnya dalam membimbing anak menuju kedewasaan. Tradisi juga penting sebagai pembimbing pergaulan bersama didalam masyarakat. W.S. Rendra, menekankan pentingnya tradisi dengan mengatakan tanpa tradisi, pergaulan bersama akan menjadi kacau dan hidup manusia akan menjadi biadab, namun demikian, jika tradisi mulai bersifat absolut, nilainya sebagai pembimbing akan merosot. Jika tradisi mulai absolut bukan lagi sebagai pembimbing, melainkan merupakan penghalang kemajuan. Oleh karena itu, tradisi yang kita terima perlu kita renungkan kembali kita sesuaikan dengan zamannya.[11]
Secara garis besar adalah suatu budaya dan adat istiadat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari- hari.

1.      Pengertian khuruj
Khuruj fisabilillah keluar di jalan Allah demi menghidupkan kerja Nabi Muhammad SAW. karena itu menjadi suatu kelaziman bagi mereka untuk mengikuti program khuruj dalam rangka membina diri. Khuruj adalah meluangkan waktu secara total untuk berdakwah dengan menggunakan harta dan diri, meningkatkan kualitas diri sambil mengajak ummat muslim lainnya untuk bergabung secara suka rela. Mereka bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dari mesjid ke mesjid lainnya, untuk menjalin silaturrahim.[12]
Mereka menafsirkan kata ukhrijat dengan makna keluar untuk mengadakan perjalanan(siyahah).  Ketika khuruj dan berdakwah kepada umat dengan disertai ilmu dan bashirah (hujjah/ argumen yang nyata dan jelas). Saat khuruj mereka mengajak kaum muslimin untuk menegakkan shalat namun mereka tidak mau membahas permasalahan shalat secara mendalam berserta hujjah dan dalilnya karena pergerakan ini ditabukan untuk membahas masalah-masalah khilafiyah. Mereka mengajak mencontoh kepada Rasulullah Saw dengan mengikuti sunnah-sunah dan hadits Rasulullah. Mereka mengkhususkan bilangan jumlah hari dalam berdakwah secara tertentu. Mereka menentukan bilangan hari dalam khuruj dengan bilangan hari khuruj selama 6 bulan, 3 bulan, 40 hari, 20 hari, 7 hari atau seminggu dan 3 hari. Khuruj ini terbilang wajib untuk dilakukan oleh mereka yang sudah bergabung dengan Jama’ah Tabligh.[13]
E.     Tinjauan Kepustakaan
Penunjang dalam penelitian ini Skripsi yang ditulis oleh Doni Nofra tentang “ Jama’ah Tabligh di Kota Padang”2013. Karya ilmiah ini hanya memfokuskan membahas sejarah dan perkembangan Jama’ah Tabligh di Kota Padang. Didalam skripsi ini membahas khuruj hanya tiga halaman dan tempat penelitiannya berbeda dengan yang penulis lakukan.Tesis yang ditulis oleh Rizka Roikhana Tentang “ Pendidikan Agama Islam dalam keluarga Jama’ah Tabligh di kabupaten Magelang, 2016. Karya ilmiah ini memfokuskan pendidikan Agama Islam didalam keluarga Jama’ah Tabligh.Serta buku-buku penunjang dalam penulisan skripsi. ini yaitu: Maulana Muhammad Yusuf Alkandahlawi r.a, Kitab Ta’lim Munthakab Al-Hadits. 2007,(Bandung: Pustaka Ramadhan).Muhammad Sayyid, Maulana Sayyid. 2000, ( Menjawab Keritikan atas Kitab Fadilah Amal(Bandung: Pustaka Da’i ) dan wawancara di lapangan penelitian nantinya.
F.     Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah dengan tahap sebagai berikut:
1.              Heuristik
Tahap ini adalah tahap dimana peneliti mengumpulkan sumber - sumber sejarah yang memiliki informasi mengenai kajian penelitian. Sumber -­ sumber tersebut  terbagi dua:
Sumber Primer dan Sumber Skunder.Sumber Primer  adalah bukti- bukti faktual yang menyangkut dengan tradisi khuruj Jama’ah Tabligh di Kota Padang, Apa saja kegiatan- kegiatannya dan bagaimana respon masyarakat di Kota Padang. Sedangkan Sumber Sekunder dapat berupa buku- buku Penunjang seperti buku dari Maulana Muhammad Yusuf Kandahlawi r,a. Kitab Ta’lim Muntakhab AL-Hadits.Abu Muhammad Ahmad Abduh.Kupas Tuntas Jama’ah Tabligh. 2008.  Bandung : Khoiru Ummat.  Cet. Ke-1. Sebelum terjun ke lapangan tempat yang akan diteliti diadakan observasi dan wawancara .
a)      Observasi
Observasi adalah proses pencatatan pola perilaku subyek ( orang ) objek (benda) atau kejadian yang sistematis tanpa adanya pertanyaan dan komunikasi dengan individu-individu yang diteliti[14].
Observasi yang penulis lakukan mengumpulkan sumber dengan mengamati kegiatan  Jama’ah Tabligh dengan tujuan untuk memproleh informasi dan gambaran kegiatan yang lebih jelas tentang permasalahan yang menunjukkan belum penelitian.
b)     Wawancara ( interview )
Wawancara adalah tanya jawab yang dilakukan di dalam penelitian yang berlangsung secara lisan, bertatap muka, mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan yang berkaitan dengan apa yang diteliti.[15]
Wawancara ini sangat diperlukan dalam penelitian ini, karena peneliti memerlukan komunikasi dan secara langsung. Informan Kardiman Pernah jadi amir dan anggota Jama’ah Tabligh. Arizon, Wilson, Babe Zainal, Burhanuddin, Zul, Bahar, Mahfud dll.
2.    Kritik Sumber
Setelah sumber- sumber dikumpulkan, selanjutnya peneliti melakukan kritik sumber. Kritik dilakukan secara Internal dan Eksternal. Secara eksternal peneliti memperhatikan kelayakan fisik sumber dan keutuhannya. Secara internal peneliti menguji keabsahan informasi yang dikandung sumber. Setelah melalui beberapa tahap kritik tersebut, langkah selanjutnya ialah merumuskan fakta- fakta sejarah dari sumber - sumber tersebut. Fakta yang dirumuskan dikelompokkan kedalam dua bagian:
 Fakta kuat dan fakta lemah, fakta ini dibagi berdasarkan kepada kuat atau tidaknya pendukung. Jika sumber didukung oleh dua atau lebih sumber, maka fakta tersebut digolongkan kepada fakta kuat akan tetapi jika sebaliknya maka fakta dikategorikan sebagai fakta lemah. Fakta- fakta tersebut dikumpulkan dan disimpan sementara waktu yang nantinya digunakan sebagai tonggak- tonggak atau pilar- pilar dalam menyusun laporan dari penelitian ini.
3.      Sintesis
Pada tahap ini, peneliti akan menyusun semua fakta - fakta yang telah diklasifikasikan hingga membentuk kerangka sejarah yang memiliki kaitan - kaitan yang masuk akal. Kerangka inilah yang akan dikembangkan menjadi cerita sejarah yang menarik untuk dibaca. Untuk sampai kepada kerangka sejarah, sebagaimana telah disebutkan di atas maka peneliti mengunakan dua proses sintesis yaitu :
Sintesis Internal dan Sintesis Eksternal.Dalam sintesis eksternal peneliti kembali menklasifikasikan fakta yang telah dirumuskan ( fakta keras dan fakta lunak ) berdasarkan kegunaan fakta tersebut. Pada tahap sintesis internal fakta- fakta telah siap digunakan untuk penulisan cerita sejarah. Fakta - fakta telah dirangkai secara logis dan objektif. Fakta sejarah pada tahap sintesis internal ini telah berbentuk proposisi - proposisi dan telah siap digunakan untuk penulisan laporan penelitian ini.
4.      Penulisan Sejarah
Pada tahap ini, oleh karena peneliti ini besifat naratif maka berubah penulisan yang penulis gunakan dengan kaidah – kaidah penulisan ilmiah yang berlaku. Dalam penulisan laporan fakta- fakta terus dikembangkan artinya penulisan laporan penelitian ini, adalah suatu upaya menetapkan kemungkinan dalam tahap penulisan, analisis terhadap fakta- fakta sejarah tetap dilakukan.[16]
Penelitian dilakukan pada objek ilmiah adalah objek yang berkembang apa adanya, tidak ada unsur manipulasi oleh peneliti.[17]





G.    SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I Pendahuluan yang menguraikan Latar belakang masalah. Rumusan dan batasan masalah.Tujuan dan kegunaan Penelitian. Penjelasan judul, Tinjauan kepustakaan. Metode penelitian, Daftar sumber
BAB II menguraikan  Gambaran  umum Jama’ah  Tabligh  Pengertian Jama’ah Tabligh. Tokoh-tokoh Pendirinya. Perkembangan Jama’ah Tabligh. Aktivitas  khuruj Jama’ah Tabligh
BAB III  menguraikan Tradisi  khuruj dan Pengertian tradisi secara umum. Tujuan tradisi dan Fungsi tradisi. Pengertian khuruj. Dalil  khuruj Jama’ah Tabligh. Fatwa hukum khuruj.
BAB IV menguraikan aktivitas dan respon masyarakat. Bagaimana aktivitas Tradisi  Khuruj Jama’ah Tabligh. Bagaimana respon masyarakat  di Kota Padang.
BAB V   Kesimpulan.  



















[1]Departemen Agama.R. I,  Al-Qur’an dan Terjemahnya.  Semarang : Diponegoro, 2011.  h.63
[2]Ibid,64
[4]Abu Muhammad Abduh. Kupas Tuntas Jama’ah Tabligh,(Bandung : Khairu Ummat, 2008 ) Cet. Ke-1, h.8

[5]Maulana Mhd  Yusuf Al-Kandahlawi r.a, Kitab Ta’lim Muntakhab Al-Hadits, ( Bandung:  Pustaka Ramadhan, 2007  ) h. 1
[6]Doni Nofra. Skripsi, IAIN Imam  Bonjol,  Padang  , (Jama’ah Tabligh di Kota Padang  2013) h. 4
[7]Abu Muhammad Fahim.Inilah Kedok Jama’ah Tabligh. Imtihan Indonesia 2007.h.62
[8]Syafe’i Yusuf. “Wawancara, “ ( Tokoh Masyarakat dan Pengurus Mushalla Arrahman Pilakut Buana Indah I Padang .Senin.Jam,03.30. Juli, 2015
[9]Usman Karim . “Wawancara,  “ ( Tokoh Masyarakat dan Pengurus Mesjid Alhijrah Jl.Delima Belimbing Padang . Senin.Jam,04.00. Juli, 2015
[10]Kardiman .“Wawancara, Jama’ah Tabligh . Jum’at. Jam, 05.30. 10. 23 Maret 2016.
[11]Mardimin Johanes. Jangan Tangisi Tradisi, ( Yogyakarta : Kanisius, 1994) h. 12-13
[12]Muhammad Yusuf, Al- Kandahlawi. ( Munthakab Ahadits : Dalil- Dalil Pilihan Enam Sifat Utama ( Terj ) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Mujahid . Yogyakarta : Al- Shaff, 2006)  h. 545
[13]Ibid. Khalimi MA, h. 208
[14]Sangadji, Etta Mamang. Pendekatan Praktis dalam  Penelitian , ( Yogyakarta : Andi Offset,  2010) h. 171- 172
[15]Narbuko, Cholid, dkk. Metodologi Penelitian,  ( Jakarta : Bumi Aksara, 1992 ) h. 70
[16] Bima Nikortis. Skripsi,( Pergolakan Masyarakat Banda X dengan VOC Abad XVII )IAIN Imam Bonjol, Padang, 2015. h. 11-13
[17]Nawawi, Hadari dkk.Penelitian Terapan , ( Yogyakarta : Universitas Gajah Mada, 1996)  h. 3 



BAB II
GAMBARAN UMUM JAMA’AH TABLIGH


A.    Geografis Kota Padang





























B.     Pengertian Jama’ah Tabligh
 Jama’ah TablighJama’ah Tabligh ("Kelompok Penyampai") (bahasa Arab: جماعة التبليغ adalah gerakan dakwah Islam dengan tujuan kembali ke ajaran Islam yang kaffah (sempurna). Aktivitas mereka tidak hanya terbatas pada golongan Islam saja. Tujuan utama gerakan ini adalah membangkitkan jiwa spiritual dalam diri dan kehidupan setiap muslim. Jama’ah Tabligh merupakan pergerakan non-politik terbesar di seluruh dunia[1].
Berbicara sejarah sebuah gerakan Islam, pastinya lebih mengutamakan sejarah dari tokoh pendirinya itu, karena dari tokoh yang mendirikan  memegang penting, sejarah Jama’ah Tabligh didirikan pada akhir dekade 1920-an oleh Maulana Muhammad Ilyas bin Muhammad Ismail al-Kandahlawi al-Deoband al-Jisti[2]di Mewat, sebuah provinsi di India. Kandahlawi adalah nisbat kepada sebuah kampung yang  bernama Kandahla di Saharanpur India.
Dia lahir pada tahun 1303 H. Deobandi adalah nisbat kepada Deoband, salah satu madrasah terbesar bagi pengikut mazhab Hanafi di India. Madrasah ini didirikan pada tahun 1283 H. Muhammad Ilyas menghabiskan masa kecilnya di Kandahla, sebuah desa di kawasan Muzhaffar Naghar di wilayah Uttarpradesh, India. Ayahnya bernama Muhammad Ismail, tinggal di Nizamuddin, New Delhi, India yang kemudian menjadi markas besar Jama’ah ini. Muhammad Ilyas meninggal pada tahun 1364 H[3].
Muhammad Ilyas tumbuh berkembang di lingkungan keluarga sangat agamis dan dengan tradisi keilmuan yang sangat kental. Ayahnya, Muhammad Ismail adalah seorang penganut tasawuf yang sangat ‘abid dan zahid. Dia telah mengabdikan hidupnya dalam ibadah dan tidak lagi terlalu disibukkan dengan urusan dunia, Hari-harinya disibukkan dengan Al-Quran.Muhammad Ilyas telah hafal Al-Quran dalam usia yang sangat muda. Dia belajar kepada kakak kandungnya sendiri yang bernama Syaikh Muhammad Yahya. Selesai itu, dia belajar di madrasah Madhahirul Ulum, di kota Saharanpur. Dan pada tahun 1326 H, di berangkat ke Deoband. Sekolah ini terbesar untuk pengikut  Imam Hanafi di anak benua India yang didirikan pada tahun 1283 H/1867 M. Di sini dia belajar hadits Jami Shahih Turmudzi dan Shahih Bukhari dari seorang alim yang bernama Mahmud Hasan. Kemudian melanjutkan belajar Kutub al-Sittah pada kakaknya sendiri, Muhammad Yahya yang wafat pada tahun 1334 H[4]. Setelah belajar di Deoband dia ditugaskan sebagai tenaga pengajar di madrasah Madhahirul Ulum pada tahun 1328. Setelah itu dia kembali ke tempat kelahirannya, lalu ia pergi ke Hijaz, Saudi Arabia, untuk menunaikan haji. Sebagai seorang yang memliki kepedulian yang sangat tinggi pada kelangsungan ajaran Islam, kesempatan menuaikan ibadah haji ini dia gunakan untuk bertemu dengan berbagai kalangan ulama untuk memperbicangkan cara pengembangan terbaik dakwah Islam di India khususnya[5].
Dia pergi ke Madinah dan tidur di Mesjid Nabawi selama tiga malam. Di saat itu dia puasa, shalat dan berdoa meminta petunjuk kepada Allah jalan terbaik untuk kelanjutan dakwah Islam. Kemudian kembali ke India dan memikirkan apa sebenarnya yang telah membuat umat Islam kehilangan roh Islamnya yang hakiki. Pada saat itu umat Islam India sedang mengalami kerusakan akidah dan degradasi moral yang sangat dahsyat. Umat Islam sudah tidak akrab lagi dengan syiar-syiar Islam.Di samping itu, terjadi percampuran antara yang hak dan yang bathil, antara iman dan syirik, antara sunah dan bid’ah. Lebih dari itu, juga telah terjadi gelombang permusyrikan dan permutadan yang didalangi oleh para misionaris Kristen dimana Inggris saat itu sedang bercokol menjajah India. Gerakan misionaris yang didukung Inggris dengan dana yang sangat besar itu telah berusaha membolak-balikkan kebenaran Islam, dengan menghujat ajaran-ajarannya dan mendeskreditkan Rasulullah Saw. Bagaimana membendung kristenisasi dan mengembalikan kaum Muslimin yang “lepas” ke dalam pangkuan Islam? Itulah yang menjadi kegelisahan Muhammad Ilyas.Akhirnya Syaikh Ilyas melihat, kelangsungan sebuah dakwah dan penyebarannya tidak akan terwujud kecuali dakwah itu berada di tangan-tangan orang yang benar-benar rela dan ikhlas berkorban demi kepentingan dakwah hanya mengaharapkan sepenuhnya ridha Allah tanpa menggantungkan diri bantuan dari manapun. Gerakan ini lebih menekankan meminta pengorbanan waktu kaum muslimin dengan melakukan khuruj (keluar) di jalan Allah untuk berdakwah. Disinilah bagian yang menarik jamaah ini, dari mana pengorbanan menjadi salah satu tiang utama dalam berdakwah. Bahkan dalam setiap perjalanan dakwah itu, semua keperluan ditanggung oleh masing-masing da’i yang bersangkutan.Sepeninggal Syaikh Muhammad Ilyas Kandahlawi, kepemimpinan Jama’ah Tabligh diteruskan oleh puteranya, Syaikh Muhammad Yusuf Kandahlawi (1917-1965), ia dilahirkan di Delhi, dalam mencari ilmu ia sering berpindah-pindah tempat dan guru sekaligus menyebarkan dakwah. Ia wafat di Lahore dan jenazahnya dimakamkan di samping orang tuanya di Nizham al-Din, Delhi. Kitabnya yang terkenal adalah Amani Akhbar, berupa komentar kitab Ma’ani al-Atsar, karya Syaikh Thahawi dan Hayatal-Shahabah. Kemudian penyebaran Jama’ah Tabligh dilanjutkan oleh Amir yang ketiga yaitu In’am Hasan.Nama Jama’ah Tabligh hanyalah merupakan sebutan bagi mereka yang sering meyampaikan, sebenarnya usaha ini tidak mempunyai nama tetapi cukup Islam saja tidak ada yang lain. Bahkan Muhammad Ilyas mengatakan seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan aku beri nama “gerakan iman”. Ilham untuk mengabdikan hidupnya total hanya untuk Islam terjadi ketika Maulana Ilyas melangsungkan ibadah haji keduanya di Hijaz pada tahun 1926. Maulana Ilyas menyerukan slogannya, “Aye Musalmano!” Musalman bano” (dalam bahasa urdu), yang artinya “Wahai Umat muslim! Jadilah yang kaffah (menunaikan semua rukun dan syariah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW).[6]
Jama’ah Tabligh resminya bukan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim yang menjalankan agamanya dan hanya satu-satunya gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mazhab atau aliran pengikutnya.Jama’ah ini muncul di India, kemudian tersebar ke Pakistan dan Bangladesh, negara-negara Arab dan keseluruh dunia. Di antara negara-negara yang banyak pengikutnya yaitu Mesir, Sudan, Irak, Bangladesh, Pakistan, Suriah, Yordania, Palestina, Libanon. Pimpinan pusatnya berkantor di Nizamuddin, Delhi.Dalam waktu kurang dari dua dekade, Jamaah Tabligh berhasil berjalan di Asia Selatan. Dengan dipimpin Maulana Yusuf, putra Maulana Ilyas, gerakan ini mulai mengembangkan aktivitasnya pada tahun 1946, dan dalam waktu 20 tahun, penyebarannya telah mencapai Asia Barat Daya dan Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara. [7]

C.     Pengertian tradisi khuruj
KhurujJama’ah Tabligh yaitu keluarnya seseorang dari lingkungan untuk memperbaiki diri dengan belajar meluangkan waktu dari kesibukan dan mengorbankan harta di dalam rizkinya, keluarga dan urusan yang lain. Demi meningkatkan iman dan amal shaleh semata hanya mengharap ridha Allah SWT.[8]
Agama adalah anugerah terbesar sekaligus sumber ke-ridha’an Allah SWT, menunaikan perintah dan menjauhi laranggan-Nya. Dan mengamalkan Agama seara kaffah. Karna demikian penting Agama bagi umat seluruh Islam dan manusia lainnya. Allah SWT, telah mengutus para Nabi-Nya, untuk mendidik seluruh umat manusia agar mengamalkan Agama sebagai pedoman hidupnya. Dan perjuangan serta pengorbanan seorang hamba yang beriman demi Agamanya, yaitu bukti nyatanya keimanan kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.[9]
Khuruj secara bahasa berasal dari bahasa Arab yaitu, kharaja artinya keluar yang dimaksud adalah suatu usaha amal untuk keluar berdakwah guna mengajak manusia beribadah kepada Allah SWT, dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Selain itu khuruj ini hukumnya wajib bagi setiap umat Islam, keluar untuk berdakwah.[10]
Menurut Drs. KH. Najib al-Ayyubi : Khuruj fi sabilillah terbagi ke dalam beberapa fase,tiga hari, empat puluh hari dan empat bulan. Tiga  hari dilakukan dalam setiap bulan, empat puluh hari dilakukan dalam setiap tahun, dan empat bulan dilakukan dalam seumur hidup. Kegiatan tersebut berupa training hidup.[11]
Khuruj fi sabilillah keluar di jalan Allah demi menghidupkan kerja Nabi Muhammad SAW. karena itu menjadi suatu kelaziman bagi mereka untuk mengikuti program khuruj dalam rangka membina diri. Khuruj adalah meluangkan waktu secara total untuk berdakwah dengan menggunakan harta dan diri, meningkatkan kualitas diri sambil mengajak ummat muslim lainnya untuk bergabung secara suka rela. Mereka bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dari mesjid ke mesjid lainnya, untuk menjalin silaturrahim.[12]
Khuruj adalah suatu kebiasan Jama’ah Tbligh dalam menyampaikan dan mengamalkan Islam secara kaffah. Meluangkan waktu untuk khuruj dalam seminggu tiga hari untuk keluar di jalan Allah dalam melaksanakan program khuruj ke daerah atau kota atau keluar kota.[13] Kebiasan khuruj yang turun temurun ini telah lama dikerjakan Jama’ah Tabligh di seluruh dunia.khuruj yang dimaksud ayat Al-Qur’an di atas, berdasarkan mimpi pendiri Jama’ah Tabligh ini, yakni Maulana Ilyas Al-Kandahlawi, yang bermimpi tentang tafsir surat Ali’Imran ayat 104 dan 110. Ini menurutnya kata ukhrijat dengan makna keluar untuk mengadakan perjalanan.[14] Mereka menafsirkan kata ukhrjiat dengan makna keluar untuk mengadakan perjalanan (siyahah).  Ketika khuruj dan berdakwah kepada umat dengan disertai ilmu dan bashirah (hujjah/ argumen yang nyata dan jelas). Saat khuruj mereka mengajak kaum muslimin untuk menegakkan shalat namun mereka tidak mau membahas permasalahan shalat secara mendalam berserta hujjah dan dalilnya karena pergerakan ini ditabukan untuk membahas masalah-masalah khilafiyah. Mereka mengajak mencontoh kepada Rasulullah Saw dengan mengikuti sunnah - sunah dan hadits Rasulullah. Mereka mengkhususkan bilangan jumlah hari dalam berdakwah secara tertentu. Mereka menentukan bilangan hari dalam khuruj dengan bilangan hari khuruj selama enam bulan, tiga bulan, 40 hari, 20 hari, tujuh hari atau seminggu dan tiga hari. Khuruj ini terbilang wajib untuk dilakukan oleh mereka yang sudah bergabung dengan Jama’ah Tabligh.[15]
D.    Tokoh - tokoh Pendiri Jama’ah Tabligh
1.    Maulana Muhammad Ilyas, beliau lahir pada tahun 1303 H/1886 M Kandhla, India, penggagas pertama berdirinya Jamaah Tabligh sekaligus pemimpin pertama Jama’ah Tabligh
2.    Maulana Muhammad Yusuf, putra Maulana Muhammad Ilyas, pengganti ayahnya setelah Muhammad Ilyas meninggal dunia. Beliau menyusun kitab antara lain al-Muntakhab al-Hadits, dan buku Khuruj fi Sabilillah Menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang menjadi buku rujukan bagi para pengikut Jama’ah Tabligh dalam berdakwah.
3.    Maulana Istihyamul Hasan, pemimpin Jama’ah Tabligh setelah Maulana Muhammad Yusuf. Beliau mengarang buku antara lain: Satu-Satunya cara memperbaiki kemerosotan umat Islam di Zaman ini.
4.    Maulana Zakariya al-Kandhalawi, lahir 11 Ramadhan 1315 H di kandla, India. Beliau ini adalah keponakan dari Maulana Muhammad Ilyas. Ayah Zakariya, Syekh Muhammad Yahya sauadara sekandung dengan Maulana Muhammad Ilyas. Maulana Zakariya ini seorang penulis buku aktif. Banyak bukunya yang menjadi pedoman bagi para Jama’ah Tabligh. Diantara buku-bukunya yang sangat terkenal di kalangan Jama’ah Tabligh adalah Himpunan Fadhilah Amal. Maulana Zakariya al-Kandhalawi, sebagaimana Maulana Ilyas, pamannya, juga punya hubungan yang sangat dekat dengan Syekh Rasyid Ahmad, seorang pembaharu pengikut Wahabi, bahkan menganggapnya sebagai mursyidnya. Berkata Maulana Zakariyya: teman akrab ayah saya, Syaikh mursyid saya, yaitu Syaikh Rasyid Ahmad rah.a., yang jika ditulis segala kebaikan dan keutamaannya, tentu memerlukan sebuah buku yang cukup tebal.
5.    Maulana Manzhur Nu’mani, Seorang tokoh Jama’ah Tabligh yang sangat dekat dengan Maulana Muhammad Ilyas. Beliau ini salah seorang anggota pengurus Rabithah Alam Islami, sering menyertai Maulana Muhammad Ilyas saat khuruj fisabilillah. Beliau menyusun buku Malfudhat Hazhrat Maulana Muhammad Ilyas. Buku sudah diterjemah dalam Bahasa Indonesia dengan judul Mutiara Hikmah Ulama Ahli Dakwah.
6.    Abul Hasan Ali Nadwi, sering bersama Maulana Ilyas. Beliau mengarang buku antara lain Riwayat hidup Maulana Muhammad Ilyas. Menurut Manzhur Nu’mani, Abul Hasan Ali Nadwi mempunyai hubungan khusus dengan Maulana Muhammad Ilyas, karena ada hubungan yang erat dalam usaha agama dan dakwah antara keluarga Maulana Ilyas dengan keluarga Abul Hasan Ali Nadwi.
7.    Syekh Muhammad Sa’ad al-Kandhalawi, cucu dari Maulana Muhammad Yusuf. Beliau telah melakukan penyempurnaan buku Khuruj fi Sabilillah Menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits, karangan kakeknya, Maulana Muhamammad Yusuf

E.     Perkembangan Jama’ah Tabligh
Di Indonesia, menuju Zulfaqar, Jama’ah Tabligh berkembang sejak 1952, dibawa oleh rombongan dari India yang dipimpin oleh Miaji Isa. Tapi gerakan ini mulai marak pada awal 1970-an. Mereka menjadikan mesjid sebagai pusat aktivitasnya. Tak jelas berapa jumlah mereka karena secara statistik memang susah dihitung. Tetapi yang jelas, mereka ada di mana-mana di seluruh penjuru Nusantara. Pola dakwah Jama’ah Tabligh cocok untuk orang-orang yang belum mapan keagamaanya atau masih dalam pencarian. Di Indonesia, hanya membutuhkan waktu dua dekade, Jama’ah Tabligh sudah menggurita. Hampir tidak ada kota di Indonesia yang belum tersentuh oleh model dakwah mereka. Tanda kebesaran dan keluasan pengaruhnya sudah ditunjukkan pada saat mengadakan “Pertemuan Nasional” di Pesantren Al-Fatah Desa Temboro, Magetan, Jawa Timur pada tahun 2004. Kenyataan ini sungguh di luar dugaan untuk sebuah organisasi yang relatif baru dan tidak mempunyai akar di Indonesia.[16]
Perkembangan Jama’ah Tabligh di Medan diawali dengan kedatangan Maulana Muhammad Ibrahim (yang sampai saat ini masih tetap menaruh perhatian besar atas perkembangan Jama’ah Tabligh) dari Banglore, India pada tahun 1971. Saat tiba di Medan ia disambut oleh masyarakat Medan dengan baik. Salah seorang yang sangat tertarik dengan tabligh ini adalah Haji Jalaluddin, sehingga dalam menyampaikan dakwahnya Maulana Ibrahim selalu ditemani oleh Haji Jalaluddin. Mereka kemudian membangun Mesjid Hidayatul Islamiyah di jalan Gajah Medan, yang kemudian menjadi pusat/markas Jama’ah Tabligh Medan. Maulana Ibrahim kemudian mencurahkan ilmunya pada Haji Jalaluddin, dan setelah ia yakin bahwa Haji Jalaluddin mampu mengembangkan Jama’ah Tabligh di Medan ia pun kembali ke negara asalnya. Haji Jalaluddin kemudian menjadi amir di Medan. Setelah ia meninggal jabatan amir diteruskan oleh anaknya Haji Badruddin. Pengembangan dakwah yang berkesinambungan dan terus menerus menghasilkan perkembangan jumlah anggota Jama’ah Tabligh di medan. Mesjid Hidayatul Islamiyah di jalan Gajah yang kemudian lebih dikenal dengan mesjid Jalan Gajah menjadi sentra perkembangan Jama’ah ini. Berbagai halaqah kemudian berdiri diberbagai daerah di Medan dan sekitarnya, misalnya di Tanjung Mulia, Paya Pasir, dan Batang Kuis. Sampai saat ini sulit untuk memastikan jumlah anggota Jama’ah Tabligh di Medan.
Aktifitas dakwah Jama’ah Tabligh dalam mentransformasikan nilai-nilai Islam selalu mengajak orang lain untuk bergabung ke dalam Jama’ah Tabligh. Dakwah mereka sampaikan secara targhib (kabar gembira) yakni dengan memberikan informasi tentang hal-halyang membahagiakan apabila seseorang menjalani kehidupan sesuai dengan jalan Allah. Juga sebaliknya dengan tahrib (ancaman) yakni memberikan informasi tentang bentuk-bentuk penderitaan yang akan dialami seseorang yang keluar dari tuntunan Ilahi. Dari berbagai informan yang penulis temui orang-orang yang kemudian bergabung ke dalam Jama’ah Tabligh merasa peningkatan keimanan dan keIslamannya dan meninggalkan perbuatan maksiat dan sia-sia. Mereka mendakwahkan Islam kepada masyarakat tanpa mempersoalkan aliran, mazhab, dan khilafiah. Memakmurkan mesjid merupakan salah satu aktifitas khas Jama’ah Tabligh yang dilakukan dalam setiap waktu salât, baik saat mereka di rumah maupun saat mereka berdakwah keluar. Jama’ah Tabligh dalam memakmurkan mesjid dengan mengisi amalan mesjid seperti: Ta’lim wa ta’lum (mengajar dan belajar) yang biasa dilakukan setelah melaksanakan salât wajib. Amalan mesjid yang lain yang mereka lakukan bila mukim di suatu mesjid adalah membaca al-Qur’an, salat tahajud, salat dhuha, dan lain-lain. Salat berjama’ah dimesjid merupakan amal yang sangat disiplin dilakukan oleh Jama’ah Tabligh baik saat berdakwah maupun saat di rumah. Pada umumnya sebelum adzan mereka sudah datang ke Mesjid. Bahkan ada sebagian Jama’ah Tabligh walaupun sedang berada di kenderaan umum mereka akan segera turun untuk ke mesjid bila mereka mendengar adzan meski ia belum sampai ke tujuannya.[17]
Jama’ah Tabligh salat ber jama’ah hukumnya wajib. Zikir dan doa merupakan ibadah yang juga menduduki posisi penting bagi Jama’ah selain salât. Lafadz zikir yang selalu mereka lakukan adalah istighfar, tahmid, tasbih, takbir dan tahlil. Berdoa juga mereka lakukan secara teratur untuk membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan selalu membutuhkan pertolongan Allah. Mereka berdoa dengan memenuhi adab-adabnya, yaitu: menyesuaikan waktu, tempat dan situasi untuk berdoa, mengangkat tangan, menghadap kiblat, yakin bahwa doa akan terkabul. Membudayakan salam merupakan aktifitas yang selalu dilakukan oleh Jama’ah Tabligh bukan saja terhadap sesama anggota tetapi juga terhadap sesama Muslim. Setiap anggota Jama’ah Tabligh dilatih dengan pendekatan praksis untuk senantiasa beribadah, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah. Mereka saling mengingatkan satu sama lain tentang pengamalan ibadah-ibadah ini. Setiap anggota dilatih untuk mampu menyampaikan risalah dakwah tanpa mengenal batasan tingkat pendidikan formal maupun keluasan ilmu pengetahuan ke Islaman yang dimiliki. Bagi Jama’ah Tabligh, berdakwah bukan hanya dalam batas peribadatan, tetapi juga dengan memberikan teladan yang baik (uswatun hasanah) dalam berakhlak. Dalam bertutur sapa, Jama’ah Tabligh selalu memulai dengan menyebut asma dan sifat Allah. Misalnya mengucapkan Insya Allah bila berjanji atau merencanakan suatu kegiatan, alhamdulillah bila mendapatkan nikmat dan hal yang menyenangkan mereka atau menyenangkan orang lain, subhanallah bila mereka salut dan Allah Akbar bila mereka takjub akan kebesaran Allah. Dalam bertutur kata mereka cenderung randah hati, sopan dan menghargai pendapat orang lain, tidak cepat marah dan kalimat yang mereka ucapkan menyenangkan hati. Sedangkan dalam berbincang - bincang mengenai masalah agama dan dunia mereka seakan pasrah.Dalam berpakaian dan berhias Jama’ah Tabligh lebih senang memakai gamis/jubah yaitu baju panjang sampai ke lutut dan dengan celana yang tidak sampai mata kaki. Karena mereka beranggapan bahwa memakai celana yang lewat mata kaki tempatnya di neraka. Jama’ah Tabligh mewajibkan bagi kalangan wanita mereka untuk menutup auratnya kecuali wajah dan telapak tangan. Pakaian ini mereka gunakan dalam semua aktifitas. Selain itu bagi laki - laki memakai lobe dan serban, namun lobe lebih sering digunakan untuk semua kegiatan sedangkan serban lebih sering digunakan saat mendengarkan pengajian. Mereka selalu menggunakan parfum yang bebas alkohol, menggunakan celak. Dalam menggosok bersugi, selain menggunakan sikat dan odol mereka juga menggunakan kayu siwak.[18]
Dalam berjalan Jama’ah Tabligh selalu menundukkan kepalanya, hal ini dilakukan guna menghindarkan mata dari kemungkinan melihat hal-hal yang mungkar atau yang membangkitkan syahwat. Walaupun hal-hal semacam itu dinyatakan sebagai dosa kecil namun bila hal ini dilakukan terus menerus tentu dosa tersebut akan menjadi besar. Dalam ta’lim mereka selalu mendekat dan merapat kepada nara sumber. Kegiatan ta’lim biasanya dilakukan setiap selesai salât fardhu. Umumnya salah seorang dari mereka menjadi“moderator” dan secara bergantian membaca kitab-kitab tertentu lalu mendiskusikannya.[19]
Bila mereka sedang muqim di suatu mesjid biasanya mereka akan memberikan ta’lim kepada Jama’ah shalât dengan menyampaikan satu hadits atau ayat al-Qur’an. Dalam mendengarkan ta’lim mereka selalu menunduk, baik bila mereka memahami isi ta’lim maupun tidak. Dalam Jama’ah Tabligh setiap anggota wajib memiliki sebuah buku, minimal Fadhilah Amal untuk bahan bacaan di rumah. Hal ini untuk menutupi sifat manusia yang pelupa agar tidak melupakan ajaran - ajaran Islam. Saat makan mereka berkumpul membentuk lingkatan mengelilingi satu wadah - biasanya talam dan mereka menggunakan tiga jari untuk menyuap nasi dan tidak menggunakan alat bantu makan seperti sendok, garpu. Adab duduk tatkala makan adalah menduduki kaki kiri dan kaki kanan dalam posisi seperti jongkok. Mereka tidak pernah menyisakan apapun dalam piring mereka, meskipun itu sebutir nasi. Sebagaian mereka hanya mempraktekkan cara makan ini tatkala di luar rumah, namun bila mereka berada di rumah mereka makan seperti umumnya orang lain makan, dengan lima jari atau menggunakan alat bantu makan, dan duduk bersila atau di atas kursi. Yang terasa dari makan bersama adalah pembentukan kebersamaan dan ukhuwah yang semakin tinggi. Hidup sederhana merupakan gaya hidup yang harus dibentuk oleh setiap Jama’ah Tabligh. Kesederhanaan ini bukan saja dalam berpakaian dan makan, namun juga tidak membelanjakan harta dengan sia-sia tanpa manfaat bagi agama Islam. Mengeluarkan harta di jalan Allah merupakan sikap yang terus menerus mereka pupuk dalam upaya menegakkan syiar dan kejayaan Islam. Kenyataan ini sungguh di luar dugaan untuk sebuah non organisasi yang relatif baru dan tidak mempunyai akar di Indonesia[20].
Merebaknya Jama’ah Tabligh sebenarnya hanyalah salah satu gerakan dari perkembangan serupa di banyak negara.Kelompok ini sekarang sedang mewabah di seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan islamisasi di negara-negara atau daerah - daerah non - muslim. Mereka bisa, karena menawarkan format Islam yang lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta tekanan pengayaan spritualitas personal. Format semacam ini bagaimanapun mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh kapitalisme dan modernisme.  Meskipun demikian, Jama’ah Tabligh tetap menimbulkan kontroversi. Sebagian kalangan menuduh kelompok ini  adalah bagian dari jaringan Islam garis keras. Namun, sebagian lainnya, justru berpendapat berbeda.Jama’ah Tabligh  dianggap semata-mata komunitas dakwah yang bersifat apolitis. Adanya perbedaaan pandangan yang sangat tersebut menunjukkan komunitasnya ini. sesungguhnya belum banyak dieksplorasi sehingga tidak mudah dipahami. Hal ini sebenarnya wajar, mengingat komunitas ini relatif kurang terbuka kepada publik.Jama’ah Tabligh di Indonesia meski tak sepopuler organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah atau NU, namun Jama’ah Tabligh terbilang mempunyai anggota yang cukup banyak. Anggota Jama’ah Tabligh di Indonesia sangat bervariasi, mulai dari artis sampai dengan tentara, kalangan profesional dan lain-lain. Pusat markas Jama’ah Tabligh di Indonesia berada di Jakarta, khususnya di Mesjid kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Kota.Di mesjid yang sudah berusia lebih dua abad ini, kita akan menjumpai ratusan Jama’ah yang hampir seluruhnya berjenggot. Jama’ah Tabligh ini berkumpul rutin setiap malam jum’at, hanya pada malam itu mereka berkumpul di Masjid tua di kebon jeruk.[21]
Mereka juga menggunakan surban, pakaian takwa dan peci putih, yang biasa dipakai umat Islam di Indonesia. Tapi kita juga akan mendapati Jama’ah yang memakai surban dengan baju panjang sampai lutut, untaian tasbih atau tongkat di tangan, janggut berjenggot, dahi hitam, dan aroma minyak cendana, khas jama’ah dari Asia Timur. Pada acara ijtima’ internasional rombongan Jama’ah Tabligh dari Indonesiapun turut hadir. Rombongan dari Indonesia datang berasal dari berbagai profesi, antara lain pimpinan pondok pesantren, pengusaha muda, eksekutif muda, artis, pedagang kaki lima, pegawai negeri, dan bupati. Artis Gito Rollies adalah salah seorang di antaranya. Acara ijtima’  ( Tempat berkumpul Jama’ahTabligh) sekala besar untuk skala Indonesia juga pernah dilakukan di Medan, Lampung, dan Jakarta.Pada acara ijtima’ internasional rombongan Jama’ah Tabligh dari Indonesiapun turut hadir. Rombongan dari Indonesia datang berasal dari berbagai profesi, antara lain pimpinan pondok pesantren, pengusaha muda, eksekutif muda, artis, pedagang kaki lima, pegawai negeri, dan bupati. Artis Gito Rollies adalah salah seorang di antaranya. Acara ijtima’ untuk skala Indonesia juga pernah dilakukan di Medan, Lampung, dan Jakarta.Acara ijtima’jama’ah tabligh untuk skala Asia Tenggara, baru-baru ini (2004) dilakukan di di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fatah Desa Temboro, Kecamatan Keras, Magetan. Acara yang dihadiri oleh sekitar 20.000 anggota Jama’ah Tabligh ini terbilang istimewa, sebab calon wakil presiden Yusuf Kalla turut hadir dalam acara pembukaan tersebut. Acara ijtima’ ini merupakan awal dari acara khuruj yang menjadi program Jama’ah Tabligh.[22]
Kehadiran Jama’ah Tabligh di Indonesia demikian fenomenal. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari dua hal, pertama jumlah pengikutnya berkembang demikian pesat. Kedua, frekunesi kegiatan da’wah yang mereka lakukan dari mesjid ke mesjid, dari suatu daerah ke daerah lain,  yang mereka sebut khuruj semakin mewarnai aktifitas keagamaan yang bersifat salafi di negeri ini. Sebagai contoh, jumlah halaqah.Jama’ah Tabligh di Sumatera Barat.Pada tahun 1999 hanya 5 halaqah. Pada tahun 2012 berkembang menjadi 94 halaqah. Jama’ah Tabligh pada daerah lain di Indonesia menunjukkan gejala yang sama. Semakin banyaknya kaum muslimin di berbagai tempat umum dengan busana khas indentitas Jama’ah Tabligh baju gamis dengan celana di atas mata kaki dan memelihara jenggot menjadi indikator pernyataan di atas.[23]


F.      Proses Yang Dilakukan Sebelum Khuruj.
Tata Tertib dan aturan Jama’ah Tabligh dalam meninggalkan anak dan istri ketika akan khuruj. Pergerakan Jama’ah Tabligh di seluruh dunia, dengan masa dan tempat tujuan yang berbeda-beda, memiliki aturan dan penyeleksian sebelum khuruj adapun proses yang dilakukan sebelum khuruj yaitu :
1.    Musyawarah di pusat dakwah di Mesjid Muhammadan Kota Padang, dengan siapa, kemana dan berapa lama dia akan khuruj. Ini akan detentukan berdasarkan hasil musyawarah.[24]
2.    Musyawarah dirumah
Keluarga yang akan ditinggalkan  biaya ditinggal dan dibawak khuruj. Seperti yang diungkap oleh Maulana Khidir “ sebelum diadakannya proses khuruj, kita terlebih dahulu mengikuti musyawarah di markas, kapan,dimana dan bersama siapakita akan keluar, dan pulang kerumah, musyawarah bersama istri dan anak-anak yang akan ditinggalkan, apa saja yang diperlukan ketika khuruj dan berapa biaya yang akan dibawa khuruj dan untuk keperluan dirumah.[25]Aturan ini dikenal dikalangan Jama’ah  Tabligh di Kota Padang, dengan Istilah Tafaqud. Tafaqud meliputi amwal dan ahwal. Amwal adalah yang berhubungan dengan masalah biaya untuk keluarga yang ditinggalkan. Semua itu disesuaikan dengan lamanya ia akan keluar dan daerah mana yang akan dituju.[26]
       Contoh : Keluar 40 / tiga hari, biaya kisaran Rp.15000 perhari x 40 hari
                                                                                                     Rp.1.200.000
                                                                                Transportasi Rp.500.000
                                                                     Total           Rp.1.700.000
Biaya untuk keluarga yang akan ditinggalin, dihitung berdasarkan keperluan dan kemampuan, contohnya untuk kebutuhan makan dan keperluan sehari-sehari sebesar 50.000/ hari x 40 hari = Rp.2000.000.  Dengan demikian tidak benar adanya tuduhan sebagian orang yang mengatakan bahwa Jama’ah Tabligh meninggalkan keluarga begitu saja, tanpa meninggalkan perbekalan bagi keluarganya ataupun menyia- nyiakannya.Sedangkan ahwal adalah berkenaan dengan masalah keluarga, pekerjaan dan sejenisnya. Seseorang itu akan dibenarkan keluar 40 hari, empat bulan atau berapa pun lamanya, jika dia telah melewati proses tafaqud tersebut, maka semuanya akan sesuai dengan arahan yang dianjurkan masyaikh.[27]
Selanjutnya walaupun sudah dipastikan seseorang itu sudah lulus tafaqud untuk khuruj, maka teman-teman Jama’ah Tabligh yang tidak khuruj, secara bergantian akan memperhatikan hal ihwal keluarga yang sedang ditinggalkan tersebut. Tatatertib yang diterapkan Jama’ah Tabligh, yaitu dengan adanya persyaratan biaya untuk keluarga yang ditinggalkan dan untuk dirinya yang khuruj, serta adanya anjuran memperhatikan keluarga-keluarga yang ditinggal mereka yang tidak khuruj. Maka tidak akan dijumpai kasusu-kasus yang terlantar karena khuruj fisabilillah.Pemikiran dasar Jama’ah Tabligh. Dalam gerakan Islam kontemporer, Jama’ah Tabligh adalah gerakan dakwah yang mempunyai pengikut yang terbesar, pengikutnya hampir ada di setiap negara baik yang dihuni oleh mayoritas muslim maupun non Muslim. Banyaknya pengikut Jama’ah Tabligh di berbagai negara tidak terlepas dari pemikiran yang ditawarkan Jama’ah Tabligh kepada pengikutnya. Ada dua prinsip yang sangat fundamental bagi Jama’ah Tabligh yaitu tidak melibatkan diri dalam politik praktis dan tidak membahas masalah keagamaan yang bersifat khilafiyah.[28].
Pemikiran Jama’ah Tabligh lebih jauh bisa dikatakan bertolak belakang secara diametral dengan gerakan dakwah Islam lainnya. Menurut Jama’ah Tabligh, pada saat ini pintu ijtihad sudah ditutup. Sebab menurut Jama’ah Tabligh, syarat-syarat ijtihad yang dikemukakan ulama salafi sudah tidak ada lagi di kalangan ulama saat ini. Karena itu, ada keharusan bagi kaum muslimin untuk bertaklid. Pemikiran sangat bertentangan dengan pemikiran Muhammad Abduh, pemikir muslim dari Mesir, yang membuka pintu ijtihad seluas - luasnya agar kaum muslimin dapat maju. Pendekatan dakwah dan ibadah yang digunakan adalah dengan cara tasawuf, tidak dengan politik, sosial, budaya ataupun perlawanan bersenjata. Jama’ah Tabligh sangat meyakini bahwa tasawuf adalah cara untuk mewujudkan hubungan dengan Allah dan memperoleh kelezatan iman. Mengutamakan ibadah mahdhoh, sebagaimana tasawuf, banyak ditentang oleh gerakan Islam lainnya terutama oleh gerakan Wahabi, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin dan lain-lain. Jama’ah Tabligh memisahkan antara agama dan politik. Setiap anggota tidak berhak mengkaji politik atau terjun ke dalam urusan yang berhubungan dengan pemerintahan. Sebab menurut Jama’ah Tabligh politik praktis hanya akan membawa kepada perpecahan.[29]

3.    Buku Pengangan Jama’ah Tabligh.
Jika ada kelompok pastilah mempunyai buku pedoman untuk kelompok itu, buku Fadhail Amal ini merupakan salah satu buku rujukan atau pedoman utama Jamaah Tabligh. Dikarang oleh Muhammad Zakariya Al-Khandalawi kemenakan sekaligus menantu Muhammad Ilyas. Buku tersebut selalu dibawa oleh Jama’ah Tabligh kemana saja Jama’ah ini bergerak, buku ini selalu mendampingi mereka. Hampir di setiap masjid yang di diami Jama’ah Tabligh, tentulah buku itu ada. Bahkan, buku ini yang sering mereka baca secara berkelompok setiap dalam bayan selesai shalat. Hal yang perlu diketahui untuk kita, bahwa Muhammad Ilyas menyetujui kitab ini. Bahkan karena dengan rasa gembiranya atas buku ini, ia mengungkapkanya dalam bentuk tulisan dalam salah satu suratnya kepada beberapa alim ulama, “Syaikhul Hadist (Muhammad Zakaria) telah berhasil menulis sebuah kitab. Memang hati saya menghendaki agar setiap bagian dari kerja tabligh ini ada satu risalah yang ditulis oleh beliau.[30] Dalam tulisan lain, Muhammad Ilyas mengatakan, “Semoga Allah menerima tulisanmu dan juga pengaruhnya. Seandainya engkau pegang kemuliaaan tabligh ini, maka insya Allah bukumu dan pengaruhnya tidak hanya tersebar di negeri India, bahkan juga membanjiri tanah Arab dan Ajam.[31]
Dalam buku Hazrat Syaikh Maulana Zakariya, tulisan Sufi Muhammad Iqbal disebutkan, “Maulana Muhammad Zakariya telah melihat di dalam mimpi, bahwa draft kitab-kitabku, seperti Aujaz telah disusun dan daku akan serahkan kepada Rasulullah Saw. Di sebelah kanan Rasulullah Saw, diduduki oleh Allama Zakarni dan Allama Baaji di sebelah kiri. Apabila daku menghampiri Rasulullah Saw, daku lihat kitab Aujaz yang lengkap berada di tangannya, yang serupa dengan kitab-kitab yang kubawa bersama-samaku ditunjukkan kepada baginda Rasul. Rasulullah Saw sangat bergembira dan doaku yang aku tidak bisa ingat. Daku sangat gembira dengan mimpi ini, dan berharap usahaku menyusun Aujaz dapat diterima.[32]
a.       Malfudhat Hazhrat Maulana Muhammad Ilyas., susunan Manzhur Nu’many. Buku ini sudah diterjemah dalam Bahasa Indonesia dengan judul Mutiara Hikmah Ulama Ahli Dakwah.
b.      Fadhilah A’mal, karangan Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi, dengan berbagai terjemahannya dalam Bahasa Indonsia.
Buku ini yang tebalnya sampai dengan 726 halaman lebih banyak menjelaskan kelebihan-kelebihan amal dan ibadah. Buku terdiri dari 7 bagian, yaitu : Fadhilah Shalat, Fadhilah Zikir, Fadhilah Qur’an, Fadhilah Tabligh, Fadhilah Ramadhan, Hikayat Para Shahabat dan Keruntuhan Ummat. Buku Fadhaillul A’mal ini sangat populer dikalangan Jama’ah Tabligh Indonesia dan Aceh khususnya.
Al-Hadits al-Muntakhabah, dihimpun oleh Maulana Muhammad Yusuf al-Kandahlawi. Beliau adalah putra sulung dari Maulana Muhammad Ilyas.
Kitab ini disusun kembali dengan beberapa penambahan oleh Maulana Muhammad Sa’ad al-Kandahlawi. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia oleh M.Q. al-Hakim dengan judul Hadits-Hadits Pilihan Dalil-Dalil Enam Sifat Para Sahabat
Fadhilah Sadaqah, karangan Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi dengan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Buku ini terdiri dari tujuh pasal, yaitu Keutamaan Menginfak Harta, Celaanan Terhadap Kekikiran, Keutamaan Silaturrahmi, Penegasan Atas Zakat, Ancaman Atas Orang Yang Tidak Menunaikan Zakat, Anjuran Atas Zuhud, Qana’ah dan Tidak Meminta, dan Tujuh Puluh Cerita Tentang Ahli Zuhud dan Bersedekah di Jalan Allah.
Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, karangan Sayyed Abu Hasan Ali Nadwi, dengan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Buku ini menceritakan riwayat hidup Syekh Maulana Muhammmad Ilyas, pendidikan dan perjalanan hidupnya dalam usaha membentuk dan mengembangkan Jama’ah Tabligh. Satu-satunya Cara Memperbaiki Kemerosotan Umat Islam di Zaman ini, karangan Syekh Maulana Istihyamulhasan (Dicetak Dalam Kitab dengan Himpunan Fadhilah A’mal karangan Syekh Zakariyya al-Kandahlawi)
Otobiografi Kisah-Kisah Kehidupan Syaikhul Hadits Maulana Zakariyya al- Kandhalawi, Karangan Maulana Zakariyya al- Kandhalawi, Hayah Shahabah, karangan Maulana Muhammad yusuf.[33]

4.      Ciri- ciri Jama’ah Tabligh
Identitas Jama’ah Tablig, Ada beberapa keunikan  mulai dari penampilan, cara berpakaian, kebiasaan keluar rumah untuk berdakwah selama berhari - hari, cara makan bersama, metode berdakwah, hingga menghindari politik dan kekerasan dalam berdakwah. Pada aspek penampilan, cara berpakaian para anggota Jama’ah Tabligh biasanya berpakaian memakai baju Afgani dengan dominan warna putih dengan abu-abu. Ada juga warna baju lain seperti coklat, biru, hitam dan lain-lain. Baju Afgani berbeda dengan baju gamis yang biasa dipakai orang Arab. Baju Afgani ini berlengan panjang dan menjulur ke bawah sampai lutut dengan belahan sisi kiri bawah dan sisi kanan bawah. [34] Ada Perbedaan Tradisi dakwah khuruj Jama’ah Tabligh dengan kelompok lainnya: Jama’ah Tabligh mendatangi masyarakat dengan berjalan kaki ( bil aqdam) Jama’ah Tabligh mempunyai cara dakwah yang konvensional yakni tradisi bil aqdam dengan berjalan kaki jumpa masyarakat, sedangkan kebanyakan harokah lain berdakwah di datangi manusia seperti kajian-kajian yang akan mendengar dakwah mereka. Bahkan disaat harokah yang kini telah memakai sarana radio, Tv dan majalah untuk dakwah di markas dakwah mereka komputer saja tidak ada. Juga banyak yang gunakan media massa tv, koran, majalah dan buletin. Bahkan mereka gunakan propoganda besar pasang iklan untuk kumpulan massa dalam kongres mereka. Sedangkan Jama’ah Tabligh dakwah dengan senyap namun dalam ijtima’ mereka di 5 wilayah Indonesia di hadiri ratusan ribu orang padahal  tak ada satu iklanpun tertempel di jalan, bahkan di markas mereka sekalipun. Ketika ada orang yang kritik mereka : bagaimana mungkin tradisi cara begitu datang ke rumah- rumah tidak efisien, bukankah sekarang ada tv, ada radio cukup kita ngomong di studio dan didengar oleh banyak orang di rumah- rumah. Mereka katakan: dahulu sahabat Nabi berdakwah dengan cara datangi manusia maka satu negeri masuk Islam, satu kota masuk Islam dan satu kampung masuk Islam.[35]
a)      Ulama mereka katakan tradisi dakwah yang tidak cara Nabi, dengan inovasi, atau imitasi tak akan datangkan ketakwaan. Tetapi mereka melalui tradisi dakwah harus duplikai sehingga jadi asbab hidayah, Modal tradisi dakwah  mereka adalah harta dan diri, Berbeda dengan harokah lain, jika ingin ada kegiatan apapun, apalagi bersipat pengiriman tenaga da’i nya pasti mencari dana dari luar mesjid dan selalu diumumkan soal dana. Jama’ah Tabligh berbeda, mereka tak bicara dana setiap orang yang ingin keluar di jalan Allah maka membawa uangnya pribadi masing- masing dan membiayai kebutuhan sendiri-sendiri. Tak ada diumumkan Jama’ah Tabligh butuh dana untuk kirim jama’ah ke Irian jaya dsb, bahkan kota infaq saja tak ada di markas mereka yang berjalan seperti di mesjid lainnya. Tradisi dakwah mereka kepada akar bukan ranting yakni kepada dasarnya dahulu baru ke hukum-hukumnya. Banyak harokah yang tak sabar lihat cara kerja Jama’ah Tabligh yang hanya bicara tentang iman dan amal shaleh melulu. Sementara mereka inginkan bukan hanya amal ma’ruf tetapi nahi mungkar, hancurkan kemaksiatan. Orang tua di Jama’ah mereka katakan Rasulullah SAW,tak pernah hancurkan berhala dengan tangannya agar sahabat tak pernah sembah berhala, tetapi Rasulullah SAW hancurkan berhala yang ada dihati para sahabat. Sehingga ketika hatika mereka penuh dengan Allah SWT, berhala telah dinafikan maka dihancurkan sendiri dengan tangan mereka[36].
b)      Jama’ah mengatakan: tradisi dakwah Nabi kepada iman dahulu, betulkan yakin maka ketika yakin betul maka akan betullah amalan manusia. Syeikh Yusuf rah.a.  Sebagai  amir jama’ah tabligh yang kedua ditanya sama orang: kenapa orang tabligh tak nahi mungkar hancurkan kemaksiatan / kemungkaran, hanya amar ma’ruf saja. Maka Syeikh Yusuf rah.a, katakan: jika kamu melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan. Bukan hancurkanlah tetapi rubahlah!!. Lihatlah oleh kamu!. Orang - orang yang telah keluar di jalan Allah SWT, telah merubah kehidupanya dalam ketaatan. Menurut mereka defenisi berkembangnya Agama ditamsilkan: seperti bayi dan mayat dapat sama-sama berkembang. Bayi yang dirawat dengan baik dan sabar, maka walaupun lambat bayi ini akan berkembang, dan akan disayang oleh orang banyak. Setelah dwasa akan ada manfaat. Tetapi mayat yang jatuh di kali jga berkembang menjadi besar dalam hitungan jam dan cepat, tetapi baunya busuk dan tak disukai orang menjadi suber yang mengganggu. Begitulah agama yang berkembang dengan ushul yang benar walaupun lambat akan menjadi manfaat bagi umat. Tetapi yang tak ikut ushul cepat maju mudhorat buat umat. Tradisi dakwah Jama’ah Tabligh tak ikut suasana dan keadaan. Tradisi yang dibuat Jama’ah Tabligh tak terkesan dengan keadaan baik dengan keadaan baik dalam masa aman, maupun rawan, panas, susah dan senang, mereka tetap keluar di jalan Allah SWT. Ikut perhitungan yang mereka tentukan sendiri. Tidak seperti harokah lain, baru kirim Jama’ah kalau ada kejadian tertentu, misalnya ada pemurtadan, da gempa bui,tsunami dan orang - orang Islam di perangi. Barulah mereka buat kerja galang dana, ajak Jama’ah mereka ke sana. Kalau Jama’ah Tabligh mulai program maka akan dibuatnya sampai mati. Sampai-sampai ulama mereka berkata Syekh Ilyas beri nasehat : Hendaklah buat jaulah tak boleh berhenti walaupun waktunya bertepatan dengan hari kematian  ayah kamu, istri kamu, anak kamu. Karena jika kalian tetap  jaulah maka Allah SWT akan ampuni dosa keluarga kalian. Tradsi Jama’ah Tabligh dimulai dari keutamaan amal. Menurut mereka ilmu fadhilah amal adalah tujuan sedangkan ilmu masa’il (masalah hukum Islama) dalah keperluan untuk mewujutkannya. 
c)      Dakwah Jama’ah Tabligh kepada orang -  orang miskin, orang berdosa, preman dan koruptor. Pernah seseorang yang dituakan diantara mereka ditanya, kenapa jama’ah tabligh tak ada sempalannya, di seluruh dunia tak ada Tabligh tandingan  tak pernah terjadi kejadian keributan didalam program. Maka Jama’ah katakan, mereka perbedaan antara Jama’ah mereka dengan Jama’ah lain adalah komponen pendukungnya, Jama’ah mereka dibangun oleh orang bodoh yang hanya ikut saja tak ada inovasi mereka taat kepada aturan Jama’ah, Jama’ah mereka orang miskin yang tak punya uang untuk bikin tandingan karena biasanya orang kaya atau orang pandai jika usulan dalam Jama’ah ditolak mereka akan bikin tandingan karena punya uang untuk bikin massa tandingan . Jama’ah mereka dibangun orang yang berdosa sehingga mereka dibangun oleh orang-orang yang berdosa sehingga mereka hanya ingin bertobat agar dosanya diampuni sehingga dengan cara apapun yang penting tobatnya diterima. Orang miskin  tak punya cita - cita yang muluk - muluk hidupnya hanya untuk hari ini saja sehingga siap korban kapan saja[37].
d)     Tradisi Jama’ah Tabligh tak terkesan dengan kekuasaan. Syekh mereka di Pakistan yakni syekh Abdul Wahab ketika melihat pejabat datang ke markas mereka dengan formil, pengawalan. Maka langsung beliau memerintahkan pejabat itu balik beliau kwatir Jama’ah di markas Rewind yang hari ini berjumlah 20.000 kehilangan tawajuh ( fokus )kepada Allah SWT, dan hatinya bergeser kepada kekuasaan seolah Agama dibangun dengan kekuasaan, mereka meyakini Agama akan wujud dengan pengorbanan.Tradisi dakwah Jama’ah tak berpolitik. Seseorang diantara Jama’ah ditanya, kenapa tak berpolitik, bukankah Rasulullah berpolitik. Jama’ah Tabligh menjawab : kalau kalian jeli mengamati pilihan untuk tidak berpolitik adalah sebuah politik juga yakni politik untuk tidak berpolitik.[38]
e)      Mereka katakan: Kalau Rasulullah dahulu politiknya adalah merendahkan diri sendiri dan meninggalkan muslim lain, tetapi kalian sekarang berpolitik merendahkan muslimin saling caci, saling kritik dan meninggikan diri sendiri seolah kalian yang terbaik. Dalam politik Islam yang ada sekarang umummnya ingin turunkan orang lain  dan menaikkan diri sendiri berbeda dengan politik Nabi datang kepada raja untuk tawarkan iman kalau mereka mau tak perlu diturunkan seperti Najasy kalau mereka menolak maka wajib bagi mereka bayar jizyah kalau tidak mau diperangi adakah politik hari ini seperti politik Rasulullah. Tradisi khuruj mereka tidak minta upah. Mereka hanya mintak digantikan Allah SWT, tak ada maksud  untuk ambil uang dari mad’u ( orang yang di dakwah ) inilah yang menyebabkan mereka banyak di tentang oleh orang yang menjadikan tradisi dakwah sebagai mata pencaharian.[39] 











5.      Anggota Jama’ah Tabligh
Keanggotaan Jama’ah Tabligh dibagi kedalam tiga kategori: Pertama anggota aktif, yang dimaksud anggota aktif adalah mereka yang selalu berdakwah dan menjalankan khuruj dan anggota yang dianggap aktif selalu memakai pakaian putih yang biasa mereka pakai. Jumlah anggota yang aktif diperkirakan 7.500, di seluruh Indonesia. Anggota yang aktif umumnya para pekerja pedagang atau wiraswasta.
Kedua adalah anggota yang setengah aktif, mereka adalah anggota Jama’ah Tabligh yang kadang- kadang mau berdakwah, mereka juga kadang-kadang yang memakai pakaian putih yang biasa dipakai mereka, kadang- kadang menghadiri perkumpulan dan pengajian. Anggota setengah aktif ini diperkirakan 1000 orang, di seluruh Indonesia. Setengah aktif ini para pekerja pegawai yang memiliki waktu terbatas.
Ketiga anggota tidak aktif atau masih tahap belajar, anggota ini hanya coba-coba ketika diajak berdakwah banyak alasan kecuali hanya mendengarkan ta’lim wa ta’lum dan berkumpul bersama Jama’ah Tabligh. Kadang memakai pakaian putih ada yang berjenggot dan ada yang tidak sama sekali, jumlah anggota yang tidak aktif dan pasti diperkirakan 15000 orang.[40]Anggota Jama’ah Jabligh sendiri mempunyai pengikut dari kalangan orang penting dan terkenal seperti artis.Di Indonesia, Tabligh juga menyentuh hati sakti, personel band sheila on 7. Pada tahun 2006, dia telah keluar selama empat bulan kemarkas Internasional Tabligh di Nizamuddin, New Delhi, India. Dia telah berhenti bermusik, dan memilih menjalankan amalan- amalan maqami dan amalan intiqali dengan sangat intensif.[41]
Tentara ikut Jama’ah Tabligh. Di Pakistan tidak asing lagi kalau tentara keluar di jalan Allah SWT.Sebagaimana Maulana Ihsan mengatakan ada tiga sifat yang mirip sifat sahabat. Pertama. Taat kepada komandan / amir. Kedua. Berani mati, Siap dihantar kapan saja, kemana saja, dengan siapa saja dan makan apa saja. Di indonesia kini tentarapun banyak ikut ambil bagian sebagaimana terjadi di Majalengka dan Bandung. Bahkan setiap kota selalu ada yang ikut Jama’ah Tabligh.[42]



[1]Khalimi, Ormas - Ormas Islam. Sejarah, Akar Teologi dan Politik. Jakarta : Gaung Persada Press h. 199
[2] Al-Jisti adalah nisbat kepada salah satu thariqat sufi bernama Jistiyyah. Silsilah thareqat tersebut dimulai dari India, dari seorang sufi bernama Khawaja Mu’inuddin Al-Jisti.
[4] Ibid, h. 200
[5] Intelektualisasi-asq.blogspot.com/2. Jam.03.30.23 Maret 2016
[6] Op,Cit. Khalimi, h. 202
[7] Www.Hidayatullah.com. Jam,02.30.september 2016.
[8] Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny. Kupas Tuntas Jama’ah Tabligh.Cirebon: Pustaka Nabawi 2012.h.147
[9] Ibid.h.148
[10] An Nadr M Ishak Shahab. K huruj Fi Sabilillah, Sarana Tabiyyah Ummat Untuk Membentuk Sifat Imaniyyah. Bandung: Al-Islah Perss.2012. www.eprints.Walisongo.ac.id. Jam, 22.03. 23 Februari 2016
[11] Fikri Rivai. Skripsi. UIN Jakarta.2010.Dakwah KH.Najib Al-Ayyubi di Jama’ah Tabligh,.h53
[12] Muhammad Yusuf, Al- Kandahlawi. ( Munthakab Ahadits : Dalil- Dalil Pilihan Enam Sifat Utama ( Terj ) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Mujahid . Yogyakarta : Al- Shaff, 2006)  h. 545
[13]  Wawancara.Kardiman, Jama’ah Tabligh.Jam 05.30. Kamis 23 Maret 2016
[15] Op .Cit. Khalimi MA, h. 208
[17]  Observasi ketika Jama’ah Tabligh Khuruj di Mesjid Al-Hijrah, Kamis.Jam 10.00.20 Desember  2016
[19] Www.nu.or.id. Jam.03.30.23 Maret 2016
[20] Www.nu.or.id. Jam.03.30.23 Maret 2016
[22] Www.nu.or.id. Jam.03.30.23 Maret 2016
[23] Wawancara. Kardiman. AmirJama’ah Tabligh .Jam,08.00.20 Desember,2016
[24] Wawancara. Kardiman. AmirJama’ah Tabligh .Jam,08.00.20 Desember,2016
[25] Wawancara. Kardiman. AmirJama’ah Tabligh .Jam,08.00.20 Desember,2016
[26] Abu Muhammad. Kupas Tuntas Jama’ah Tabligh1.h.68.
[27] Abu muhammad. Kupas Tuntas Jama’ah Tabligh3. Bandung : khoiru Ummat 2008.h.69
[28] Www.nu.or.id..Jam, .08.00.23 Maret 2016
[30] Op.cit. Khalimi MA, h. 209
[31] Maulana Sayyid Muhammad Syahid.Menjawab Kritikan Atas Kitab Fadhail Amal. Bandung: Pustaka Da’i, 2000, h 26.
[32] Intelektualisasi-asq.blogspot.com/2. Jam,08.00.23 Maret  2016
[34] Op,Cit.Khalimi, h. 204                                                                 
[35]  Wawancara. Arizon. Jama’ah Tabligh. Rabu.Jam.06.3.23 Maret,  2017
[36]  Op.Cit h.69
[37]  Wawancara. Kardiman. Jama’ah Tabligh. Jam 05.30. Senin.23 Maret 2017
[38]  Wawancara, Wardiman. Jama’ah Tabligh. Jam 5.30. 23 Maret  2017
[39]  Wawancara. Kardiman. Jama’ah Tabligh, Minggu. Jam,5,3. 23 Maret, 2017
[40] Wawancara. Kardiman. Amir Jama’ah Tabligh.Jam. 05.30.April 2017
[41] Op.Cit. Khalimi, h.202
[42] Abu Muhammad Fahim. Inilah Kedok Jama’ah Tabligh. Imtihan Indonesia.h.66




BAB III
PENGERTIAN TRADISI SECARA UMUM

A.    Pengertian Tradisi
Kehidupan manusia tidak lepas dari transformasi nilai meskipun telah banyak pengaruh kebudayaan baru menghampirinya, transformasi ini tidak lain adalah warisan nenek moyang yang secara turun temurun dilestarikan oleh setiap bangsa. Sampai sekarang meskipun berada di tengah- tengah industrialisasi, transformasi ini masih menjadi bagian yang disakralkan dari kehidupan manusia, sebagai himmah dan loyalitas terhadap warisan nenek moyang terus menjadi kearifan lokal, dan tetap tidak dipunahkan. Karena bila melanggar suatu tradisi yang ada dianggap tidak baik selama tradisi itu tidak bertentangan dengan norma-norma Agama.[1]
Tradisi adalah kebiasaan yang turun - temurun dalam suatu masyarakat. Tradisi merupakan mekanisme yang dapat membantu untuk memperlancar perkembangan pribadi anggota masyarakat, misalnya dalam membimbing anak menuju kedewasaan. Tradisi juga penting sebagai pembimbing pergaulan bersama didalam masyarakat. W.S. Rendra, menekankan pentingnya tradisi dengan mengatakan tanpa tradisi, pergaulan bersama akan menjadi kacau dan hidup manusia akan menjadi biadab, namun demikian, jika tradisi mulai bersifat absolut, nilainya sebagai pembimbing akan merosot. Jika tradisi mulai absolut bukan lagi sebagai pembimbing, melainkan merupakan penghalang kemajuan. Oleh karena itu, tradisi yang kita terima perlu kita renungkan kembali kita sesuaikan dengan zamannya.[2]





Di dalam tradisi diatur  bagaimana manusia berhubungan dengan manusia yang lain  atau satu kelompok manusia dengan kelompok yang lain, bagaimana manusia bertindak terhadap lingkungannya dan bagaimana prilaku manusia terhadap alam. Ia berkembang menjadi satu sistem yang memiliki pola dan norma yang sekaligus juga mengatur penggunaan sanksi dan ancaman terhadap pelanggaran dan menyimpang. Tradisi yang telah membudaya akan menjadi sumber dalam berahklak dan budipekerti seseorang seseorang manusia dalam berbuat akan melihat realitas yang ada di lingkungan sekitar sebagai upaya dari sebuah adaptasi walaupun sebenarnya orang tersebut telah mempunyai motivasi berprilaku pada diri sendiri.[3]
Tradisi dikenal dengan kata ‘Urf yaitu secara etimologi erarti sesuatu yang dipandang baik dan diterima oleh akal sehat. Al- ‘Urf ( adat istiadat ) suatu yang sudah diyakini mayoritas orang, baik berupa ucapan atau perbuatan yang sudah berulang-ulang sehingga tertanam di dalam jiwa dan diterima oleh akal mereka.[4]
Al- ‘Urf adalah apa yang dikenal manusia dan menjadi tradisinya, baik ucapan, perbuatan atau pantangan-pantangan, dan disebut juga adat. Menurut istilah ahli syara’ tidak ada perbedaan antara al-urf dan adat istiadat.[5]
 Khuruj adalah suatu yang dikenal manusia dan masyarakat dan kebiasan dikerjakan Jama’ah Tabligh, ketika kelompok ini khuruj di larang memperbincangkan yang sia- sia dan memperbanyak zikir dan ibadah.Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tradisi sama halnya dengan adat istiadat yang berlaku, adat adalah aturan yang lazim dituntut atau dilakukan sejak dahulu kala.


B.     Tujuan Tradisi dan Fungsi Tradisi
1.      Tujuan tradisi
Tradisi yang dimiliki masyarakat bertujuan agar membuat hidup manusia kaya akan budaya dan nilai- nilai bersejarah. Selain itu, tradisi juga akan menciptakan kehidupan yang harmonis. Namun hal tersebut akan terwujud hanya apabila manusia menghargai, menghormati, dan menjalankan suatu tradisi secara baik dan benar serta sesuai aturan.
2.      Fungsi tradisi
Tradisi berfungsi sebagai penyedia pragmen warisan historis yang kita pandang bermanfaat. Tradisi yang seperti onggokan gagasan dan material yang dapat digunakan orang dalam tindakan kini dan untuk membangun masa depan berdasarkan pengalaman masa lalu. Contoh: peran yang harus diteladani tradisi kepahlawanan dan kepemimpinan.[6]

C.     Dalil khuruj Jama’ah Tabligh
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون

Artinya:
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung. ( Q.S.Ali’ Imran: 104 )[7]

Begitu juga di ayat lain Allah berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ                               
لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُون                                                                                               
Artinya :
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.(Q.S.Ali‘Imran:110)[8]
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ                                                               
                
                        Artinya :
“Dan siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru(manusia) kepada Allah dan mengerjakan amal shaleh dan berkata,“sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)”.(Q.S.Fushilat: 33).[9]

وَلا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى (١٣١) وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى                                                                                                      
Artinya :

“Dan suruhlah keluargamu(umatmu)dengan sholatdan bersabarlah atasnya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, kamilah yang member murezeki. Dan akibatnya (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa.” (Q.S. Thaha: 132)[10]

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ                        

Artinya :
Haianakkudirikanlahsholatdansuruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah atas apa-apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu adalah urusan yang di utamakan. (Q.S.Luqman: 17)[11]

لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا                                                                                                                               
Artinya:
Tiada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka, kecuali orang yang menyuruh(manusia)memberi sedekah atau berbuat kebaikan,atau mengadakan perdamaian antara manisia.Dan barangsiapa berbuat demikian karena mengharap ridho Allah, maka Kami akan memberinya pahala yang besar.” (Q.S. An-Nisa: 114).[12]  

D.    Fatwa hukum  khuruj
Beberapa fatwa mengenai hukum mengikuti khurujJama’ah Tabligh antara lain:
1. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:“
Siapa saja yang berdakwah di jalan Allah bisa disebut “muballigh” artinya: (Sampaikan apa yang datang dariku (Rasulullah), walaupun hanya satu ayat), akan tetapi Jamaah Tabligh India yang ma’ruf dewasa ini mempunyai sekian banyak khurafat, bid’ah dan kesyirikan. Maka dari itu, tidak boleh khuruj bersama mereka kecuali bagi seorang yang berilmu, yang keluar ( khuruj ) bersama mereka dalam rangka mengingkari (kebatilan mereka) dan mengajarkan ilmu kepada mereka. Adapun khuruj, semata ikut dengan mereka maka tidak boleh”.
2.      Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata:“
Semoga Allah merahmati Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (atas pengecualian beliau tentang bolehnya khuruj bersama Jama’ah Tabligh untuk mengingkari kebatilan mereka dan mengajarkan ilmu kepada mereka, pen), karena jika mereka mau menerima nasehat dan bimbingan dari ahlul ilmi maka tidak akan ada rasa keberatan untuk khuruj bersama mereka. Namun kenyataannya, mereka tidak mau menerima nasehat dan tidak mau rujuk dari kebatilan mereka, dikarenakan kuatnya fanatisme mereka dan kuatnya mereka dalam mengikuti hawa nafsu. Jika mereka benar-benar menerima nasehat dari ulama, niscaya mereka telah tinggalkan manhaj mereka yang batil itu dan akan menempuh jalan ahlut tauhid dan ahlus sunnah. Nah, jika demikian permasalahannya, maka tidak boleh keluar (khuruj) bersama mereka sebagaimana manhaj as-salafush shalih yang berdiri di atas Al Qur’an dan As Sunnah dalam hal tahdzir (peringatan) terhadap ahlul bid’ah dan peringatan untuk tidak bergaul serta duduk bersama mereka. Yang demikian itu (tidak bolehnya khuruj bersama mereka secara mutlak, pen), dikarenakan termasuk memperbanyak jumlah mereka dan membantu mereka dalam menyebarkan kesesatan. Ini termasuk perbuatan penipuan terhadap Islam dan kaum muslimin, serta sebagai bentuk partisipasi bersama mereka dalam hal dosa dan kekejian. Terlebih lagi mereka saling berbai’at di atas empat tarekat sufi yang padanya terdapat keyakinan hulul, wihdatul wujud, kesyirikan dan kebid’ahan”.
3.      Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah berkata:
“Bahwasanya organisasi ini ( Jamaah Tabligh, ) tidak ada kebaikan padanya. Dan sungguh ia sebagai organisasi bid’ah dan sesat. Dengan membaca buku-buku mereka, maka benar-benar kami dapati kesesatan, bid’ah, ajakan kepada peribadatan terhadap kubur - kubur dan kesyirikan, sesuatu yang tidak bisa dibiarkan. Oleh karena itu -insya Allah- kami akan membantah dan membongkar kesesatan dan kebatilannya”.
4.      Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “
Jamaah Tabligh tidaklah berdiri di atas manhaj Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam serta pemahaman as-salafus shalih.” Beliau juga berkata: “Dakwah Jamaah Tabligh adalah dakwah sufi modern yang semata-mata berorientasi kepada akhlak. Adapun pembenahan terhadap aqidah masyarakat, maka sedikit pun tidak mereka lakukan, karena menurut mereka- bisa menyebabkan perpecahan”. Beliau juga berkata: “Maka Jamaah Tabligh tidaklah mempunyai prinsip keilmuan, yang mana mereka adalah orang-orang yang selalu berubah-ubah dengan perubahan yang luar biasa, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada”.







5.      Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrazzaq 'Afifi berkata: “
Kenyataannya mereka adalah ahlul bid’ah yang menyimpang dan orang-orang tarekat Qadiriyyah dan yang lainnya. Khuruj mereka bukanlah di jalan Allah, akan tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, akan tetapi kepada Muhammad Ilyas, syaikh mereka di Bangladesh (maksudnya India, pen)”. Demikianlah selayang pandang tentang hakikat Jamaah Tabligh, semoga sebagai nasehat dan peringatan bagi pencari kebenaran. Hukum khuruj bersama Jama’ah Tabligh pada asalnya haram kecuali seseorang berilmu yang diharapkan bisa membimbing mereka kepada akidah dan cara beragama yang benar. Tolong menolong atau kerja sama dengan Jama’ah Tabligh asalkan dalam kebaikan itu diperbolehkan. Tolak ukur kebaikan itu timbangan syariah, bukan sekedar perasaan. Tradisi khuruj dalam sisi semangat untuk kerja dakwah, dipandang tergantung motif dan konteks pembicaraan. Diperbolehkan melaksanakan tradisi khuruj dengan Jama’ah Tabligh terkecuali memiliki ilmu.[13]



[1]  Muhammad Idrus Ramli.  Membedah Bid’ah dan Tradisi dalam Perspektif Ahli Hadits dan Ulama Salaf. Surakarta: Khalista 2010.h.39
[2]  Mardimin Johanes. Jangan Tangisi Tradisi, ( Yogyakarta : Kanisius, 1994) h. 12-13
[3]  Bey Arifin. Hidup Setelah Mati. Jakarta: PT Dunia Pustaka 1984.h.80
[4]  Rasyad Hasan Khalil. Tarikh Tasryi : Jakarta: Grafindo Persada 2009.h.167
[5]  Abdul Wahhab Khallaf. Kidah Hukum Islam “ Ilmu Ushul Fiqh “. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 1993.h.133
[6]  Www.Informasiahli.com. Jam.03.40.september 2016.
[7] Departemen Agama.R. I,  Al-Qur’an dan Terjemahnya.  Semarang : Diponegoro, 2011.  h.63
[8] Ibid. h.64
[9]Ibid.h, 480
[10] Ibid.h,321
[11] Ibid.h,412
[12] Op.Cit.h.97
                [13] Asli bumi ayu.net. Jam.3.23 Februari 2016 


BAB IV
AKTIVITAS KHURUJ JAMAA’H TABLIGH DAN RESPON MASYARAKAT DI KOTA PADANG

A.    Aktivitas khuruj Jama’ah Tabligh di Kota Padang
Aktivitas Jama’ah Tabligh ketika khuruj  (keluar) di jalan Allah dalam menyampaikan dan mengamalkan Islam secara sempurna. khuruj fi sabilillah Jama’ah Tabligh mengamalkan do’a Nabi Ibrahim as : Ya tuhan kami utuslah seorang Rasul ditengah-tengah mereka yang berasal dari diri mereka sendiri yang tugasnya, membacakan kepada mereka ayat - ayat engkau ( dakwah ), mengajarkan kepada mereka Al-kitab dan Al-hikmah ( Ta’lim wa ta’lum ), tazkiyah ( zikir ibadah dan khidmad, sesungguhnya engkau maha gagah dan bijaksana. Do’a diatas adalah do’a Nabi Ibrahim ketika selesai membangun ka’bah sehingga mereka katakan inilah amalan mesjid yang dinginkan Ibrahim as.[1]
Sebelum Jama’ah khuruj ke suatu Mesjid atau Mushalla Jama’ah ini mempunyai kelompok yang sudah tinggal di sekitar Mesjid atau Mushalla sehingga mereka langsung ke tempat. Sebelum memasuki Mesjid atau Mushallah mereka terlebih dahulu mintak izin ke pengurus Mesjid atau Mushallah.[2] Ketika ingin melakukan khuruj terlebih dahulu mengankat amir ( pemimpin/penanggung jawab di saat khuruj ) Jama’ah Tabligh mempunyai seorang Amir dalam setiap kelompok yang membimbing mereka selama khuruj.
Seorang amir dalam Jama’ah Tabligh bertindak sebagai pimpinan dan sekaligus guru. Amir adalah seorang pimpinan yang diangkat untuk suatu urusan atau pemimpin suatu tempat. Dalam usaha da’wah, amir diartikan sebagai pimpinan yang diangkat untuk suatu Jama’ah keluar di jalan Allah. Dalam perjalanan da’wah, seorang Amir menjadi tumpuan berbagai keputusan. Menjadi pemimpin musyawarah, mendengar keluhan Jama’ah dan memutuskan jalan penyelesaian, membagi tugas Jama’ah. Semua didasarkan atas kesepakatan musyawarah. Amir juga mengawasi bagaimana kerja-kerja da’wah tetap dijalankan, seperti khususi ( bertamu / silaturahmi kepada masyarakat dan tokoh masyarakat), ta'lim wa ta'lum (belajar mengajar), urusan konsumsi ( melayani tamu / khidmat ), membangunkan jama’ah di malam hari untuk tahajud, bagaimana bayan (ceramah / penjelasan) berjalan dengan tertib, hubungan Jama’ah dengan masyarakat ketempatan terjaga, amalan dzikir pagi dan petang, kerja jaulah (keliling) sekitar Mesjid dan masih banyak tugas tugas lainnya. Perlu diingat bahwa tugas Amir adalah berk hidmat kepada jamaah, bukan sebagai diktator.[3] Seorang Amir dipilih dan diangkat secara musyawarah. Adapun kriteria seorang calon Amir yang akan dipilih, setidak akan dilihat pada beberapa kriteria: Pertama, pengalamannya dan berapa kali ia berkunjung ke India (pusat Jama’ah Tabligh sedunia). kedua, seberapa banyak dan lamanya ia telah melakukan khuruj. Ketiga, hidup tidaknya amalan da’wah di rumahnya dan tingkat keaaktifannya  dalam setiap kegiatan da’wah Jama’ah tabligh. Apabila terdapat lebih dari satu orang calon yang memenuhi kriteria tersebut, maka yang menentukan atau memutuskan siapa yang terpilih dan kemudian diangkat menjadi Amir adalah pimpinan musyawarah yang ditunjuk sebagai Amir sementara.[4]
Aktivitas Jama’ah Tablig khuruj 3 / 40 hari. Ada berbagai istilah di dalam Jama’ah Tabligh yang dipakai dalam khuruj antara lain :

a.       Jaulah umumi : jumpa seluruh orang kampung.
b.      Jaulah khususi : jumpa orang perorang sebagaimana kedudukan orang yang didatangi, contoh ulama / tokoh masyarakat.
c.       Jaulah ta’limi. Jama’ah Tabligh berkeliling disekitar mesjid atau mushallah melihat para pemuda berkeliaran diluar rumah, masyarakat baik dirumah dan diluar rumah ( ajak orang kampung ), untuk diajak mendengar ta’lim.
d.      Jaulah tasykil : Jama’ah Tabligh datang ketempat orang yang ada simpati setelah mendengar bayan ( penjelasan ) Jaulah ushuli : Jama’ah Tabligh datang kepada orang yang niat keluar bersamaan dengan kedatangan mereka ke kampung tersebut.
e.       Ta’lim kitabi, Ta’lim.
f.       Adab – adab muzhakarah ( mengingat ) dan ta’lim infirodhi yakni membaca buku-buku yang mereka bawa diluar amalan ijtima’i. Zikir dan ibadah, Shalat sunnah, Zikir pagi dan petang dan Shalat tahajud, do’a-do’a masnunah  ( doa aktivitas makan,minum,pakai baju dan lain dan doa tilawat ( doa sujud tilawah).
g.      Khidmad terhadap Amir, Jama’ah, terhadap orang kampung dan terhadap diri sendiri. Untuk lebih jelasnya sebagai berikut tetapi mereka masih melaksakaan tugas mereka masing-masing, tugas itu diantaranya: Menjaga sandal, Parkir kendraan, khidmad (Melayani tamu, Mengelola air, Memasak untuk tamu dan jamuan untuk semua jama’ah yang khuruj dan yang hadir.
h.      Bayan / ceramah) Ceramah ini sesudah shalat magrib dan di umumkan bagi siapa yang ingin mengikuti ceramah setelah shalat magrib, isi ceramah diantaranya: (Keimanan kepada Allah SWT,Memperbaiki shalat, Cara berwudhu dngan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.[5]
Adab - adab dalam berta’lim Syekh Jamil di Pakistan Katakan ada enam :
Pertama, adab ta’lim.
Kedua, Duduk iftiroshy.
Ketiga,  jawarih / tenang dalam anggota badan.
Keempat, akal tawajuh / konsentrasi dengan dihadirkan semua akal didalam majlis.
Kelima, Ghudhul bashar, yakni memandang kesana kesini saat mendengar majlis tetapi melihat kepada yang pembaca. Istima’ / mendengar dengan hati “ bukan dengan kuping” Mujahadah atas nafsu yakni ikut dari awal hingga akhir.  Di dalam ta’lim ( belajar – mengajar ) di dalam Jama’ah Tabligh ditambah dengan adab johir dan bathin, misalnya berwudhu, memakai wangi - wangian, bersiwak dan memakai pakaian sunnah yang biasa dipakai.
Adab - adab bathin yang dibuat adalah:
1.      Ta’zim wal iktiram / membesarkan dan memuliakan majlis.
2.      Tasdik wal yakin / membenarkan yang didengar dan meyakininya. Ta’atsur bil Qolbi / kesankan didalam hati.
3.      Niyyatul amal wattabligh / niat amal dan sampaikan kepada seluruh ummat Islam dan manusia. Ta’lim yang dikenalkan oleh Jama’ah Tabligh sangatlah ajaib, mereka tak kenal guru dan murid sehingga setiap orang hanya membaca saja tak ada komentar apapun. Mereka mengandalkan pengorbanan dalam Agama sehingga ta’lim mereka tak membicarakan kesalahan saudara muslim, atau menyalahkan harokah (  gerakan yang lain )
Kegiatan ini dilakukan dan ditunjuk seorang mutakallimin ( pembicara ) yang sudah dianggap berpengalaman serta aktif dalam mengikuti program ijtima’i ( program berjama’ah ) mutakallimin ini biasanya dari pihak dalam atau yang sedang melaksanalkan khuruj dan dan bisa kemungkinan dari luar negeri yaitu yang dari India, Pakistan, Amerika dan lain sebagainya. Kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.[6]
Setelah musyawarah halaqoh( lingkaran bulat ) selesai dilaksanakan. Dilanjutkan dengan makan bersama, adapun adab yang diterapkan Jama’ah Tabligh yaitu makan dengan menggunakan tangan tanpa sendok dan wadahnya memakai lengser ( wadah yang besar ) dalam satu dulang terdiri dari lima atau empat orang makan bersama-sama. Bagi orang yang ingin makan sendiri disediakan piring untuk yang mau makan sendiri.[7]
Setelah makan, istirat masing-masing jama’ah tabligh dan sekitar jam dua malam shalat tahadjut bersama-sama.
Laporan masing-masing berhalaqoh. Laporan masing-masing halaqoh ini dilaporkan berdasarkan perkembangan mahallah / Mesjid dari berbagai tempat masing-masing. Yang dilaporkan bagaimana perkembangan dan masalah yang dihadapi di tempat masing-masing ketika dakwah atau khuruj.[8]
Bayan subuh ( ceramah ). Materi ini keluar dari akidah, ibadah, dan ahklak. Ketika menyampaian ceramah pada hadirin, para jama’ah dan mutakallimin yaitu isinya memberikan semangat kepada seluruh Jama’ah Tabligh dan yang hadir sama-sama berjuang menegakkan agama Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW, agar tetap mengamalkannya. Setelah ta’lim bagi siapa saja yang ikut ingin mengikuti program khuruj. Cerita mengenai buku pegangan. Buku Fadhilah Amal Seseorang telah kritik ini kepada seseorang ustadz yang bergelar mufti dari binoritown, Pakistan. Mufti itu mengatakan :
Berapa banyak Hadits yang anda hafal sehingga mengatakan fadhilah amal Hadits dhaif? Adakah seratus ribu hadits?
Ustadz tadi menjawab tidak, Kemudian mufti berkata lagi:
Sepuluh ribu hadits? Ustadz tadi menjawab : Tidak juga.
Mufti bertanya lagi : Seribu hadits? Ustadz tadi menjawab : Tidak juga.
Maka mufti itu katakan : Pulanglah kamu .! Nanti kalau sudah hafal seribu Hadits dengan sanat dan matan, maka barulah datang kembali kepada saya kata mufti  itu kepada ustadz tadi untuk mendiskusikan tentang dhaifnya kitab fadhilah amal.
Jama’ah tabligh telah buat cara yang mudah dalam ta’lim dimana awal ilmu yang diajarkan kepada mereka adalah ilmu fadhoil. Sehingga buku fadhilah amal dibaca dua kali sehari dalam ijtima’ amal dan ketika khuruj. Pertama di Mesjid bersama Jama’ah Tabligh. kedua di rumah bersama anak dan istri. Pendaftaran nama - nama siapa yang ingin mengikuti program khuruj. Kegiatan ini dilakukan setelah ta’lim berakhir pendaftaran dilakukan dengan terlebih dahulu menyampaikan kalimat - kalimat / ayat-ayat seruan untuk keluar dijalan Allah SWT. Tazkiyah ( penyucian ) Mensucikan kehidupan manusia dari dosa ketika jumpa dengan Allah SWT,dizaman Nabi penzina, pencuri, pemabuk. Datang kepada hukum Islam untuk minta disucikan. Sehingga hukum tegak bukan cari pelaku maksiat tetapi orang datang kepada hukum untuk tazkiyah. Jaulah ( berkeliling ) metode dakwah yang pernah Rasulullah SAW lakukan dengan para sahabatnya r.a.
Adapun maksud dan tujuan dari jaulah adalah untuk membentuk sifat sabar, tawadhu, ikhlas, ikhsan dan sifat terpuji lainnya. Jaulah ini dilaksanakan setelah magrib, menjelang magrib, keliling  dari Mesjid ke rumah msyarakat untuk menyampaikan kalimat ThayyibaLaa ilaha illal lah Muhammadu RasulullahShalat dengan Khusyu’. Dapat mengambil manfaat dari qudratullah (kuasa Allah) secara langsung, maka wajib melaksanakan perintah Allah berdasarkan pentunjuk Rasulullah. Perintah yang paling penting dan sebagai asas adalah menegakkan shalat dengan khusyu’. Khusyu’ adalah takut di dalam hati dan ketenangan pada anggota tubuh. Jama’ah Tabligh sangat memperhatikan menunaikan shalat bagaimanapun kondisi sibuknya. Perkara ini dituntut kepada stiap muslim dan pelakunya akan diberi pahala oleh Allah dengan cara mempelajari dan mengamalkan rukun-rukunnya, kewajiban - kewajibannya, sunnah - sunnahnya dan hukum-hukumnya. Ilmu. Untuk dapat mengambil manfaat dari Allah secara langsung perlu mematuhi semua perintah-Nya menurut cara Nabi Muhammad SAW, hal ini dapat terwujud dengan berusaha mendapatkan ilmu Ilahi. Ilmu merupakan harta yang kekal bagi manusia.  Jama’ah Tabligh ilmu tentang hukum-hukum dan masalah-masalah fiqih serta ilmu tauhid, maka mereka perhatikan dan menghargai. Memperbaiki Niat. Niat adalah melaksanakan segala perintah Allah untuk mencari keridhaan allah semata dan agar amal bersih dari riya dan ingin dikenal orang. Setiap orngan islam diwajibkan beramal dengan yakin terhadap apa yang telah dijanjikan Allah disertai rasa rindu penuh harap akan pahala dan balasan dari sisi Allah. Mencari keridhaan Allah ( ihtisab ) dalam mengerjakan amal-amal shalih dan mengahadapi kesusahan merupakan sikap bersegera mencari pahala. Cara mendapatkannya adalah dengan tunduk berserah diri kepada Allah. Menghormati kaum Muslimin dan bersikap lembut kepada mereka Ikramul Muslimin ( lemah lembut terhadap kaum muslim) adalah melaksanakan perintah Allah yang berhubungan dengan hamba-hambanya dengan berpedoman pada petunjuk Nabi Muhammad Saw., dan menjaga kehormatan umat islam. Orang islam adalah orang-orang yang tunduk dam lembut perangainya dan mereka sangat patuh terhadap perintah dan larangan Allah. Khuruj di jalan Allah Untuk memperbaiki keyakinan dan amal pada diri seseorang dan seluruh umat manusia perlu adanya usaha menghidupkan kerja Nabi Muhammad Saw., ke seluruh alam sesuai dengan cara beliau, yakni melalui metode keluar untuk berdakwah dan Tabligh.[9]
Sebenarnya keliling itu bukan sekedar mengundang ke Mesjid tapi kita tadzkirah  dan memberikan peringatan kepada mereka menyampaikan Agama Allah SWT. karena manusia sering lupa, kita ingatkan kembali, kalu tadi silaturrahim rumah ke rumah tokoh masyarakat disebut silaturrahim khusus, sedangkan jaulah ini disebut silaturrahim umum yang tujuannya adalah mengajak.[10]

B.     Respon masyarakat di Mesjid Al-Hijrah dan di Mushalla Ar-Rahman Kota Padang.
Penulis mengumpulkan berbagai reaksi dan tanggapan Jama’ah Tabligh Khuruj di Mesjid Al-Hijrah  dan di Mushalla Ar-Rahman Kota Padang. Sebelum khuruj mereka mengunjungi tokoh masyarakat dan pengurus mesjid untuk mendapatkan izin sebelum khuruj di salah satu Mesjid, tetapi ketika Kelompok Jama’ah Tabligh ini melaksanakan khuruj selama tiga hari dalam satu minggu, kami mendapat reaksi dari masyarakat diusir oleh warga setempat.kejadian ini terjadi di Mesjid AL-Hijrah Kota Padang. Begitu juga terjadi di Mushalla AR-Rahman Kota Padang, ketika kelompok ini khuruj di Mushalla Ar-Rahman Jama’ah ini melakukan jaulah ke rumah-rumah warga ajakan Jama’ah Tabligh : Alasan masyarakat kelompok ini  menyuruh ke Mesjid padahal kami rajin ke Mesjid. Sedangkan keluarganya sendiri tidak dapat datang ke Mesjid.[11]
Kejadian ini terjadi di Mushalla Ar-Rahman, jalan. Pilakut Buana Indah satu Kota Padang setempat yang berada di dekat Mushalla. Ada seseorang masyarakat tidak senang dengan tindakan ini lalu dia mengumpulkan masyarakat dan pemuda untuk mengusir kami dikatakan sesat,mengikuti tradisi Arab. Kami menjawab kalau ada yang salah dengan ajaran kami persilahkan, ini spidol tulis dipapan tulis ini apa yang salah dengan ajaran kami.dan begitu juga di Mesjid lain di kota padang banyak reaksi mengumpulkan masyarakat dan mendatangkan polisi dituduh karena mengajarkan sesatlah dan bid’ah bermacam-macam apabila Jama’ah ini khuruj ke Mesjid / Mushalla lain.[12]
Kelompok yang sesat / bid’ah. Adakah Jama’ah Tabligh membid’ahkan orang sehingga mau sholat bersama mereka di mesjid. Masyarakat masih mau shalat berjama’ah bersama kami. Kadang kala kami menjadi imam shalat bagi mereka.[13]
Jama’ah tidak memiliki pekerjaan. Kelompok Jama’ah Tabligh semua memiliki pekerja’an, lau tidak ada pekerjaan mana bisa kami pergi khuruj jauh. Contoh ke India.[14]
Kelompok yang kotor, gak bersih baju itu-itu saja.padahal kami ketika khuruj bawak persiapan pakain mana itu-itu saja mungkin kelihatan bentuknya sama dan warna yang sama.[15] Meninggalkan anak dan istri. Perginya Jama’ah Tabligh di jalan Allah SWT, bukan untuk habiskan waktu di Mesjid, duduk, dzikir dan pegang tasbih. Kalau inilah dibuat, maka ini adalah kedhaliman terhadap keluarga.[16]
Tetapi para sahabat dahulu tinggalkan istri berbulan-bulan bahkan ada Al-Faruq ayah dari rabi’ah adalah seseorang muhaddits telah tinggalkan istri 27 tahun untuk meninggikan kalimat Allah SWT, dengan berdakwah. Datang dari kampung ke kampung, bandar ke bandar dengan membentuk tradisi dakwah Jama’ah Tabligh. Bahkan di zaman Rasulullah SAW tak kurang dari 150 Jama’ah telah dihantar oleh Rasulullah SAW . Dan Nabi SAW sendiri telah ikut tak kurang dari 25 kali. Menjemur celana di dalam mesjid, Awal kerja dakwah ini telah buat heboh umat islam, bukan hanya orang awam, orang pemerintahan ta’mir mesjid, DKM dan marbort. Bahkan ulama-ulama memberi tanggapan terhadap ahli - ahli dakwah mereka tak melihat amalan apa yang dibawa ahli-ahli dakwah, tapi melihat fisik dan penampilan dakwah yang uumnya orang-orang miskin. Karena dakwah dibuat dari Mesjid ke Mesjid dan mereka bermalam di mesjid paling tidak 3 hari. Maka banyak orang yang perhatikan gerak-gerik mereka selama berada di mesjid apalagi jama’ah-jama’ah yang keluar di jalan Allah SWT dengan jenjang waktu yang lama, 40 hari, 4 bulan maka mereka umumnya cuci pakaian di mesjid dan jemurnya pula, termasuk pakaian-pakaian dalam.tahun 1970 an dan awal 1980 an, celana dalam di identik dengan bendera Jama’ah Tabligh.[17]
Sejak saat itu mulailah adab-adab mesjid dibicarakan diantara mereka, kelompok ketika khuruj di mesjid AL-Hijrah Kota Padang : kalau kami ingin menjemur pakaian dalam kami tutupi kain agar tidak kelihatan.[18]
Mengapa harus ke India dan Pakistan, Banyak anggota mereka yang  telah habiskan harta mereka agar dapat datang ke India dan pakistan belajar cara kerja tradisi dakwah yang asal. Sampai- sampai orang jual rumah, kendraan, ternak dan kehilangan modal usaha gara-gara ingin pergi ke sana. Bahkan dalam ceramah-ceramah mereka di markas pusat maupun daerah selalu diakhiri dengan ajakan pergi kesana. Masyarakat mengatakan bahwa kiblat Jama’ah Tabligh bukan ke ka’bah. Jama’ah Tabligh mengatakan kami datang ke India dan Pakistan, untuk belajar ke tempat yang sudah hidup amal tradisi dakwahnya. Bukan untuk beribadah di sana.[19] Masyarakat kurang nyaman dengan bau-baun yang Jamaah Tabligh pakai, mereka sih baik dan ramah. Mereka hanya membaca buku Fadhilah Amal di dalamnya ada hadts dhaif.[20]

C.     Masyarakat yang menerima secara aktif
1.      Menerima secara aktif. Masyarakat melihat gerakan dakwah Jama’ah Tabligh dan kemudian mengikuti kegiatan dakwah saat mereka berdakwah di lokasi tempat tinggalnya. Ini kemudian diteruskan dengan keikutsertaannya menjadi anggota Jama’ah Tabligh. Mereka yang menerima aktif ini dapat dikategorikan dalam
tiga latar belakang:
2.      Golongan yang memang sudah menjalankan ibadah Islam dengan baik namun kemudian merasakan kelezatan iman yang lebih tinggi saat mengikuti kegiatan dakwah Jama’ah Tabligh.
3.      Golongan yang masih labil pelaksanaan ajaran Islam yang kemudian termotivasi karena selama pergaulannya dengan anggota Jama’ah Tabligh mengalami pengingkatan keislaman dankeimanan.
4.      Golongan yang sama sekali tidak mengamalkan ibadah atau ajaran Islam dan bahkan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam yang kemudian selama pergaulan dengan anggota Jama’ah Tabligh mengalami pencerahan spiritual.[21]


D.    Masyarakat yang menerima secara pasif
1)      Menerima dengan pasif. Yakni anggota masyarakat yang tercerahkan dengan kehadiran Jama’ah Tabligh dan selalu hadir dalam pengajian Jama’ah Tabligh di daerahnya namun tidak terlibat aktif dalam aktifitas dakwah. 
2)      Acuh tak acuh. Ini adalah golongan yang baginya ada atau tidak Jama’ah Tabligh di daerahnya dia tidak ambil pusing, tidak menolak dan tidak menerima, dan tidak memberikan komentar dan respon apapun.[22]

E.     Gambaran umum hasil dakwah khuruj Jama’ah Tabligh
1.      Masyarakat semakin gemar melakukan ibadah wajib dan sunnah, giat untuk Shalat berjama’ah dilakukan di mesjid, Bertambahnya jama’ah untuk shalat berjama’ah, Semangat mendengar pengajian, Memperkokoh tali silaturrahim, adanya pertambahan pemuda dan pemudi untuk melaksanakan  shalat berjama’ah.[23]
2.      Penulis melihat ketika Jama’ah Tabligh mengajak para pemuda dan masyarakat untuk berjam’ah ke mesjid atau ke mushalla selama Jama’ah Tabligh ada mereka rajin datang ke mesjid setelah selesai khuruj Jama’ah Tabligh semakin pudar untuk shalat berjam’ah

F.      Tujuan khuruj 
Tujuan Jama’ah Tabligh menyampaikan Amalan ini hanya bersifat nurani dan tiada paksaan.[24]
1.      Belajar untuk islah diri memperbaiki diri menyempurnakan agama dalam diri dan mengajak manusia untuk taat kepada Allah dengan mempergunakan harta, diri, waktu dan perasaan di jalan Allah SWT.
2.      Belajar untuk mempersiapkan amalan dan mencari ridha Allah SWT.Belajar untuk meningkatkan amalan-amalan agama dan ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT. Belajar untuk menghidupkan sunnah Rasulullah SAW, terutama mengenai keimanan, akhlak dan amal sesama manusia.
3.      Belajar untuk menangguhkan sementara perkara dunia dan mementingkan perkara akhirat.[25]
Selain itu tujan Jama’ah Tabligh sebagaimana jawaban amir Jama’ah Tabligh Al-Hasan terhadap surat Syaikh Sa’d AL-Husain, beliau mengemukakan “Sesungguhnya dakwah ini ( Jama’ah Tabligh ) tidak lain bertujuan untuk mengajak umat kembali kepada Kitabullah dan sunnah  Rasulullah SAW, serta jalan salafus salih, inilah jalan yang lurus.[26]

G.    Manfaat setelah khuruj
Pertama, Muncul rasa tanggung jawab agama terhadap keluarga, kaum kerabat dan masyarakat. Kemudian ada timbul upaya untuk merubah suasana rumahnya menjadi rumah tangga yang penuh keshalihan dan meluangkan waktunya untuk membentuk kampung yang diberkahi.[27]
Kedua, Mendapatkan pengalaman iman, dan meningkatkan iman. Contohnya : dahulunya berat untuk shalat ber jama’ah ke Mesjid, membaca Al-Qur’an. Setelah khuruj Allah gerakkan hati terus mengingat dan mengamalkan perintahnya. Ketiga, Mudah mengamalkan sunnah Rasulullah SAW.
Keempat, Sunah suro, yaitu penampilan atau gambaran Nabi Muhammad SAW, seperti memakai jubah, peci,sorban dan jenggot.
Kelima, Sunah siro, yaitu adab sehari-hari Nabi Muhammad SAW, seperti cara makan dan minum pakai tangan kanan.


[1]  Abu Muhammad Fahim. Inilah Kedok Jama’ah Tabligh. Imtihan Indonesia 2007.h.68
[2]  Wawancara. Kardiman. Jama’ah Tabligh.  Jam. 08.30.23 Maret  2017
[3]  Wawancara. Wilson. Jama’ah Tabligh ,Jam 08.00.20. 23 Maret 2017
[4]  Wawancara. Zainal, Babe . Jama’ah Tabligh.Jam.02.30.2.23 Maret2017
[5]  Wawancara. Arizon. Jama’ah Tabligh . Jam 5.03.23 Maret. 2017
[6]  Wawancara. Kardiman. Amir Jama’ah Tabligh . jam 5.30.10 Maret 2017
[7]  Observasi. Jama’ah tabligh.  Khuruj di Mesjid Al-Hijrah Kota Pdang. Jam.09.00. 23, Maret 2017
[8]  Ibid.  Jama’ah Tabligh . ketika laporan perhalaqoh masing-masing di Mesjid Al-Hijrah Kota Padang. Jam 7.30.23 Maret, 2017
[10]  Wawancara. Mahfud.  Jama’ah Tabligh. Kota Padang. Jam.7.30.3. 15. April, 2017
[11]  Wawancara. Syafi’i. Tokoh Masyarakat dan pengurus Mushallah AR-Rahman Kota Padang.Jam.7.30. 29 Maret,  2017
[12]  Abu Muhammad Fahim. Inilah Kedok Jama’ah Tabligh. Imtihan Indonesia.h.66
[13]  Wawancara. Mahfud. Mesjid Muhammadan Kota Padang  Jama’ah Tabligh.Jam.3.30. 25 Maret, 2017
[14]  Wawancara. Babe. Jama’ah Tabligh di Mesjid Al-Hijrah.Jam.3.30.23 Maret, 2016
[15]  Wawancara. Kardiman. Amir Jama’ah Tabligh di Mushalla Ar-Rahman.Jam.3.2.Mei,  2017
[16]  Wawancara. Kardiman.Amir Jama’ah Tabligh.Jam.10.23.23 Maret, 2017
[17]  Wawancara. Kardiman. Amir Jama’ah Tabligh.Jam.10.23 Maret 2017
[18]  Wawancara. Wilson. Jama’ah Tabligh di Mesjid Al-Hijrah Jam.7.30.23 Maret 2016

[20]  Wawancara. Doni, Masyarakat dan Jama’ah  Mesjid Al- Hijrah.23 April 2017
[21]  Wawancara. Zainal. Jama’ah Tabligh di mushalla Ar-Rahman . Jumat. 20 Mei 2017
[22]  Observasi di Mesjid Al-Hijrah. Selasa 23 Maret 2016
[23]  Observasi  di Mushalla Ar-Rahman. Jumat 2 Mei 2017
[24]  Wawancara. Mahfud. Jama’ah Tabligh. Khuruj di Mesjid AL-hijrah Kota Padang. Jam 3.30.Juli 2016
[25]  Wawancara.  Mahfud. Jama’ah Tabligh . Kota Padang. 3 Juli 2016
[26]  Robi bin Hadi. Fatwa Ulama Seputar Jama’ah Tabligh. Yogyakarta : Pustaka AL-Haura 2002.h.49
[27]  Op.Cit.Abu Muhammad.h.168


BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Aktivitas Jama’ah Tabligh ketika khuruj  (keluar) di jalan Allah dalam menyampaikan dan mengamalkan Islam secara sempurna. khuruj fi sabilillah Jama’ah Tabligh mengamalkan do’a Nabi Ibrahim as : Ya tuhan kami utuslah seorang Rasul ditengah-tengah mereka yang berasal dari diri mereka sendiri yang tugasnya, membacakan kepada mereka ayat - ayat engkau ( dakwah ), mengajarkan kepada mereka Al-kitab dan Al-hikmah ( Ta’lim wa ta’lum ), tazkiyah ( zikir ibadah dan khidmad, sesungguhnya engkau maha gagah dan bijaksana. Do’a diatas adalah do’a Nabi Ibrahim ketika selesai membangun ka’bah sehingga mereka katakan inilah amalan mesjid yang dinginkan Ibrahim as.  Aktivitas Jama’ah Tablig khuruj 3 / 40 hari. Ada berbagai istilah di dalam Jama’ah Tabligh yang dipakai dalam khuruj antara lain :
1.      Jaulah umumi : jumpa seluruh orang kampung.
2.      Jaulah khususi : jumpa orang perorang sebagaimana kedudukan orang yang didatangi, contoh ulama / tokoh masyarakat.
3.      Jaulah ta’limi. Jama’ah Tabligh berkeliling disekitar mesjid atau mushallah melihat para pemuda berkeliaran diluar rumah, masyarakat baik dirumah dan diluar rumah ( ajak orang kampung ), untuk diajak mendengar ta’lim.
4.      Jaulah tasykil : Jama’ah Tabligh datang ketempat orang yang ada simpati setelah mendengar bayan ( penjelasan ) Jaulah ushuli : Jama’ah Tabligh datang kepada orang yang niat keluar bersamaan dengan kedatangan mereka ke kampung tersebut.
5.      Ta’lim kitabi, Ta’lim.
6.      Adab – adab muzhakarah ( mengingat ) dan ta’lim infirodhi yakni membaca buku-buku yang mereka bawa diluar amalan ijtima’i. Zikir dan ibadah, Shalat sunnah, Zikir pagi dan petang dan Shalat tahajud, do’a-do’a masnunah  ( doa aktivitas makan,minum,pakai baju dan lain dan doa tilawat ( doa sujud tilawah).
7.      Khidmad terhadap Amir, Jama’ah, terhadap orang kampung dan terhadap diri sendiri. Untuk lebih jelasnya sebagai berikut tetapi mereka masih melaksakaan tugas mereka masing-masing, tugas itu diantaranya: Menjaga sandal, Parkir kendraan, khidmad (Melayani tamu, Mengelola air, Memasak untuk tamu dan jamuan untuk semua jama’ah yang khuruj dan yang hadir.
8.      Bayan / ceramah) Ceramah ini sesudah shalat magrib dan di umumkan bagi siapa yang ingin mengikuti ceramah setelah shalat magrib, isi ceramah diantaranya: (Keimanan kepada Allah SWT,Memperbaiki shalat, Cara berwudhu dngan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Adab - adab dalam berta’lim Syekh Jamil di Pakistan Katakan ada enam :
Pertama, adab ta’lim.
Kedua, Duduk iftiroshy.
Ketiga,  jawarih / tenang dalam anggota badan.
Keempat, akal tawajuh / konsentrasi dengan dihadirkan semua akal didalam majlis.
Kelima, Ghudhul bashar, yakni memandang kesana kesini saat mendengar majlis tetapi melihat kepada yang pembaca. Istima’ / mendengar dengan hati “ bukan dengan kuping” Mujahadah atas nafsu yakni ikut dari awal hingga akhir.  Di dalam ta’lim ( belajar – mengajar ) di dalam Jama’ah Tabligh ditambah dengan adab johir dan bathin, misalnya berwudhu, memakai wangi - wangian, bersiwak dan memakai pakaian sunnah yang biasa dipakai.
Penulis mengumpulkan berbagai respon masyarakat Jama’ah Tabligh Khuruj di Mesjid Al-Hijrah  dan di Mushalla Ar-Rahman Kota Padang. Sebelum khuruj mereka mengunjungi tokoh masyarakat dan pengurus mesjid untuk mendapatkan izin sebelum khuruj di salah satu Mesjid, tetapi ketika Kelompok Jama’ah Tabligh ini melaksanakan khuruj selama tiga hari dalam satu minggu, kami mendapat reaksi dari masyarakat diusir oleh warga setempat.kejadian ini terjadi di Mesjid AL-Hijrah Kota Padang. Begitu juga terjadi di Mushalla AR-Rahman Kota Padang, ketika kelompok ini khuruj di Mushalla Ar-Rahman Jama’ah ini melakukan jaulah ke rumah-rumah warga ajakan Jama’ah Tabligh : Alasan masyarakat kelompok ini  menyuruh ke Mesjid padahal kami rajin ke Mesjid. Sedangkan keluarganya sendiri tidak dapat datang ke Mesjid. Kejadian ini terjadi di Mushalla Ar-Rahman, jalan. Pilakut Buana Indah satu Kota Padang setempat yang berada di dekat Mushalla. Ada seseorang masyarakat tidak senang dengan tindakan ini lalu dia mengumpulkan masyarakat dan pemuda untuk mengusir kami dikatakan sesat,mengikuti tradisi Arab. Kami menjawab kalau ada yang salah dengan ajaran kami persilahkan, ini spidol tulis dipapan tulis ini apa yang salah dengan ajaran kami.dan begitu juga di Mesjid lain di kota padang banyak reaksi mengumpulkan masyarakat dan mendatangkan polisi dituduh karena mengajarkan sesatlah dan bid’ah bermacam-macam apabila Jama’ah ini khuruj ke Mesjid / Mushalla lain.
Kelompok yang sesat / bid’ah. Adakah Jama’ah Tabligh membid’ahkan orang sehingga mau sholat bersama mereka di mesjid. Masyarakat masih mau shalat berjama’ah bersama kami. Kadang kala kami menjadi imam shalat bagi mereka. Jama’ah tidak memiliki pekerjaan. Kelompok Jama’ah Tabligh semua memiliki pekerja’an, lau tidak ada pekerjaan mana bisa kami pergi khuruj jauh. Contoh ke India. Kelompok yang kotor, gak bersih baju itu-itu saja.padahal kami ketika khuruj bawak persiapan pakain mana itu-itu saja mungkin kelihatan bentuknya sama dan warna yang sama. Meninggalkan anak dan istri. Perginya Jama’ah Tabligh di jalan Allah SWT, bukan untuk habiskan waktu di Mesjid, duduk, dzikir dan pegang tasbih. Kalau inilah dibuat, maka ini adalah kedhaliman terhadap keluarga. Tetapi para sahabat dahulu tinggalkan istri berbulan-bulan bahkan ada Al-Faruq ayah dari rabi’ah adalah seseorang muhaddits telah tinggalkan istri 27 tahun untuk meninggikan kalimat Allah SWT, dengan berdakwah. Datang dari kampung ke kampung, bandar ke bandar dengan membentuk tradisi dakwah Jama’ah Tabligh. Bahkan di zaman Rasulullah SAW tak kurang dari 150 Jama’ah telah dihantar oleh Rasulullah SAW . Dan Nabi SAW sendiri telah ikut tak kurang dari 25 kali. Menjemur celana di dalam mesjid, Awal kerja dakwah ini telah buat heboh umat islam, bukan hanya orang awam, orang pemerintahan ta’mir mesjid, DKM dan marbort. Bahkan ulama-ulama memberi tanggapan terhadap ahli - ahli dakwah mereka tak melihat amalan apa yang dibawa ahli-ahli dakwah, tapi melihat fisik dan penampilan dakwah yang uumnya orang-orang miskin. Karena dakwah dibuat dari Mesjid ke Mesjid dan mereka bermalam di mesjid paling tidak 3 hari. Maka banyak orang yang perhatikan gerak-gerik mereka selama berada di mesjid apalagi jama’ah-jama’ah yang keluar di jalan Allah SWT dengan jenjang waktu yang lama, 40 hari, 4 bulan maka mereka umumnya cuci pakaian di mesjid dan jemurnya pula, termasuk pakaian-pakaian dalam.tahun 1970 an dan awal 1980 an, celana dalam di identik dengan bendera Jama’ah Tabligh.